Jual Kehormatan di Medsos

 

 


DI masa pandemi Covid-19, nampaknya orang makin kreatif untuk mencari penghasilan, antara lain dengan berjualan secara online. Dari aspek hukum, transaksi seperti ini tentu sah-sah saja sepanjang tidak melanggar aturan. Sayangnya, masih saja ada yang memanfaatkannya untuk bisnis haram, yakni prostitusi. Bahkan, melihat perkembangannya, prostitusi online ini makin marak dengan berbagai modus. Perekrutannya pun kian beragam, mulai dari yang terselubung maupun terang-terangan. Untuk modus yang disebut terakhir ini nampaknya jarang terjadi.


Orang mungkin tak mengira bila SF alias Nadira alias Mbak Mbul (23) berprofesi sebagai mucikari yang mempekerjakan 4 perempuan untuk dijadikan santapan hidung belang. Modusnya, ia membuka lowongan kerja lewat medsos, setelah calon tertarik baru dijelaskan pekerjaan yang harus dijalani, antara lain sebagai pemijat plus yang kemudian berlanjut melayani hasrat laki-laki hidung belang. Aksi ini akhirnya terbongkar dan Nadira ditangkap polisi.

Melihat modusnya, terasa sederhana dan tidak ada unsur paksaan. Artinya, mereka yang direkrut SF sebagai PSK tidak ada unsur paksaan. Hanya karena terdesak kebutuhan ekonomi, mereka rela menjual kehormatannya demi uang. Sebenarnya, mereka masih bisa menolak untuk tidak menuruti kemauan SF, namun tuntutan ekonomi lebih kuat sehingga tetap memilih jalan yang keliru, yakni menjadi PSK.

SF bukan saja disangka telah memperdagangkan orang atau dijerat dengan UU Trafficking, melainkan juga dijerat dengan UU Perlindungan Anak, karena salah satu korbannya masih di bawah umur dengan ancaman pidana paling lama 15 tahun penjara. Pelaku bakal dijerat dengan pasal berlapis.

Lantas bagaimana dengan para korbannya yang telah dijadikan PSK ? Dalam praktiknya, mereka tidak akan dijerat pidana karena berstatus sebagai korban. Padahal, kalau mau jujur, baik PSK maupun mucikari, sama-sama melanggar norma kesusilaan, kecuali korban yang masih di bawah umur.

Masyarakat, terutama perempuan yang sedang mencari kerja di masa pandemi ini perlu lebih hati-hati jangan sampai masuk jebakan mucikari seperti SF alias Nadira. Dengan semakin luasnya akses informasi, terlebih melalui online, bisnis apapun bisa terjangkau. Namun, bila bisnis sudah nyrempet bahaya, apalagi sampai memperdagangkan orang, bakal berhadapan dengan hukum. (Hudono)

Read previous post:
PASIEN CORONA BERTAMBAH 18, PASIEN SEMBUH ADA 20-Warga Sleman Dominasi Penambahan Kasus Positif Corona

Close