Terpancing Emosi

 

 


NAMANYA remaja, emosinya kadang tidak stabil alias labil. Hanya mendengar blayeran motor, hatinya panas dan langsung bereaksi untuk bikin perhitungan. Akibatnya malah bisa konyol, bukannya menangkap pemblayer, tapi malah menjadi korban penganiayaan.


Fenomena itulah yang terungkap di kawasan Berbah Sleman Jumat malam lalu. Seorang pelajar, D (19) warga Sumberharjo Prambanan menjadi korban pemukulan orang tak dikenal di sebelah barat Perempatan Sumber Kalitirto Berbah Sleman. Ia mengalami luka sobek 3 cm di bagian kepala karena dipukul dengan stik terbuat dari besi.


Gara-garanya, saat D bersama rekan-rekannya nongkrong di warung kopi dikejutkan pengendara motor yang memblayer-blayerkan knalpot sambil berjalan zigzag. Merasa gerah dengan pemandangan tersebut, D bersama rekan-rekannya pun mengejar pemblayer motor, namun kehilangan jejak. Hingga kemudian, entah dari mana datangnya, tiba-tiba dari arah belakang D dipukul dengan stik hingga mengalami luka. Pelaku kabur, sedang D ditolong warga.

Inilah risiko tindakan D yang mengejar pemblayer motor yang diperkirakan dua orang berboncengan. Bila ia tidak terpancing emosi dan tidak mengejar, mungkin tak terjadi peristiwa penganiayaan. Namanya saja remaja, D tak sabar dan langsung mengejar pelaku tanpa perhitungan. Agaknya, pelaku memang sengaja memancing emosi korban, yakni dengan memblayer motor dan berjalan zigzag.

Pancingan ini pun mengena sehingga D dan teman-temannya bereaksi dengan mengejar pelaku. Padahal, inilah yang diharapkan pelaku, yakni agar korban mengejar dan terjadi keributan.

Kasus ini murni penganiayaan, sehingga bila pelaku tertangkap bakal dijerat Pasal 351 KUHP tentang penganiyaan. Yang kita sayangkan, di tengah pandemi Covid-19, masih saja ada pelajar yang kelebihan energi dengan melakukan aktivitas yang tidak berguna. Nongkrong berlama-lama, mencari musuh, adalah aktivitas yang tidak berguna, bahkan memancing masalah.

Lagi-lagi, peran orangtua sangat dibutuhkan untuk mengontrol atau mengawasi perilaku anaknya. Intinya, jangan biarkan anak-anak berkeliaran di jalan tanpa tujuan jelas. Jalanan adalah arena yang rawan kejahatan. Bahkan pertumpahan darah bisa berawal dari peristiwa di jalanan.

Karena itu, mumpung belum terlambat, para orangtua harus terus mengawasi putra putrinya agar tidak terperosok dalam dunia kekerasan. Mendisiplinkan anak untuk taat pada aturan adalah hal utama yang harus diajarkan orang tua. (Hudono)

Read previous post:
Positif Corona Tambah 19, Didominasi Warga Sleman

Close