Kata-kata Dibalas Bacokan

 

 


DI masa pandemi Covid-19, sikap masyarakat beragam, ada yang over protektif ada pula sebaliknya, menganggap situasi sudah normal kembali, sehingga dalam kesehariannya biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa. Kebijakan kampung untuk me-lockdown atau membatasi keluar masuk warga pun berbeda-beda, ada yang mulai longgar, ada pula yang konsisten ketat.


Seperti yang terjadi di Dusun Baturan, Trihanggo Gamping Sleman, baru-baru ini warga masih ketat mengawasi pergerakan orang keluar masuk kampung. Warga setempat masih membatasi orang luar kampung keluar-masuk Baturan. Singkat cerita, MT (36) warga Kulonprogo ditegur karena sering keluar masuk kampung Baturan. Kebetulan orangtua MT tinggal di Baturan. Lantaran tidak terima ditegur, MT emosi dan membacok warga.


Akibatnya, warga lain yang melihat kejadian tersebut tidak terima dan beramai-ramai memburu MT dan menghajarnya hingga pingsan. Selanjutnya, MT dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Setelah dinyatakan sembuh, ia pun harus menjalani proses hukum dan ditahan di Polsek Gamping. Ia ditahan atas tuduhan penganiayaan sebagaimana diatur Pasal 351 KUHP.


Sebenarnya, kalau mau jujur, tindakan warga yang menghajar MT juga bisa dijerat KUHP. Hanya saja, karena situasi kurang kondusif, langkah warga mungkin dinilai wajar dan spontan karena tindakan MT telah membahayakan keselamatan orang lain. Dalam beberapa kasus, tindakan warga bisa dimaklumi sepanjang tidak berlebihan.


Agaknya, MT termasuk tipe orang yang temperamental. Hanya karena diingatkan lantaran sering keluar masuk kampung, langsung naik darah. Ternyata reaksi MT berlebihan dan tanpa pikir panjang ia membawa pedang yang langsung diayunkan ke arah korban. Tindakan MT yang membawa senjata tajam saja sudah dapat dijerat UU Darurat No 2 Tahun 1951, apalagi senjata tersebut digunakan untuk membacok.


Dalam kondisi seperti sekarang, ketika pandemi Covid-19 masih melanda, terkadang orang tak bisa kontrol karena banyak tekanan, terutama tekanan ekonomi. Namun itu tak bisa menjadi alasan untuk kalap atau lepas kontrol. Membacok orang hanya gara-gara diingatkan, tentu sangat berlebihan. Antara serangan dan balasan tidak sebanding.

Kata-kata seharusnya dibalas dengan kata-kata, bukan dengan bacokan. Tindakan MT yang membacok korban dibayar mahal karena harus mendekam di penjara dalam waktu relatif lama. (Hudono)

Read previous post:
MERAPI-ZAINURI ARIFIN Danyon 403 menyerahkan hadiah kepada para pemenang
DIIKUTI SD SE-KABUPATEN SLEMAN Hari Jadi Yonif 403/WP Digelar Lomba Cerdas Cermat

Close