Kreatif Tapi Sesat

 

 

 

PENJUAL bakso yang satu ini boleh dibilang kreatif, namun menyesatkan. Sembari berjualan bakso, JW (24), ternyata juga jualan pil koplo. Alasannya, agar mendapatkan uang yang banyak untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Aksi JW yang nyleneh ini pun barhasil dihentikan setelah polisi mengamankannya bersama barang bukti ratusan butir pil koplo, atau dalam bahasa medis masuk kategori obat daftar G.

Lantas dari mana ia mendapatkan obat daftar G ? Menurut pengakuannya, barang tersebut ia dapatkan dari L, temannya yang kini masih buron. Dari hasil penjualan pil koplo itu ia mendapat uang berlebih dibanding hanya jualan bakso. Namun sesungguhnya ia telah meracuni generasi muda, karena barang yang ia kemasi dalam paketan isi 10 itu umumnya dijual kepada para remaja.

Untungnya masyarakat peduli sehingga melaporkan perbuatan JW ke polisi yang kemudian berujung penangkapan. Patut diduga JW tidak sendirian, tapi punya jaringan, termasuk L yang diaku sebagai temannya. Untuk mengungkap jaringannya, polisi harus menangkap L. Boleh jadi L juga masih punya atasan, sehingga harus dibongkar semuanya.

Pertanyaan awam, mengapa pelaku dengan mudahnya mendapat pil koplo ? Bukankah obat daftar G sangat ketat diawasi peredarannya ? Apakah kasus ini melibatkan tenaga medis atau apoteker ? Itulah yang harus diungkap polisi. Sebab, terkait peredaran pil koplo modusnya bermacam-macam. Bisa saja barang tersebut diperoleh secara resmi, yakni dengan resep dokter dengan indikasi medis. Selanjutnya orang yang memperoleh resep ini menjualnya kepada orang lain yang sebenarnya tidak berhak mengonsumsi.

Bila ini yang terjadi, maka dokter yang memberi resep tidak bisa disalahkan karena pemberian tersebut didasarkan pada indikasi medis. Orang yang menjual kepada orang lain inilah yang selayaknya disalahkan karena memberi obat kepada orang yang tidak berhak. Modus lainnya, mungkin ada oknum tenaga medis, entah itu dokter, apoteker yang memberi obat daftar G kepada orang yang tidak berhak atau tanpa alasan medis. Bila ini yang terjadi, maka tenaga medis itu patut dipersalahkan.

Kembali pada kasus penjual bakso tadi, yang bersangkutan tak bisa berdalih terdesak kebutuhan ekonomi lantas menghalalkan segala cara dengan nyambi jualan pil koplo. Akibat perbuatannya, JW malah tak bisa berjualan bakso lagi, melainkan harus meringkuk di sel tahanan Mapolres Sleman. (Hudono)

Read previous post:
Fasilitas Pengolahan Sampah di Jembrana Mulai Dibangun

JEMBRANA (HARIAN MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Jembrana, Bali Barat, Senin (27/7) mengadakan peletakan batu pertama untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah

Close