Tragedi Penganiayaan Anak

 

 


TRAGEDI penganiayaan terhadap anak kembali terjadi. Seorang bocah, A (8) warga Mayangan Trihanggo Gamping Sleman dianiaya tetangganya, SD (44), gara-gara dianggap mengejek. A dipiting dan kepalanya dibentur-benturkan ke tembok. Akibatnya cukup fatal, A mengalami gegar otak dan patah tulang kaki sehingga harus dirawat intensif di rumah sakit. Polisi bergerak cepat setelah menerima laporan orangtua korban dan meringkus pelaku Rabu pekan lalu.


Sebenarnya, penganiayaan itu terjadi pada Jumat pekan lalu, namun orangtua korban tidak langsung melapor ke polisi. Mungkin karena masif fokus perawatan anaknya, dan dikiranya kasus seperti ini bisa diselesaikan secara musyawarah kekeluargaan. Padahal, ini peristiwa pidana biasa yang penyelesaiannya juga harus menggunakan mekanisme pidana, dalam hal ini merujuk pada UU Perlindungan Anak dan KUHP khususnya Pasal 351 tentang penganiayaan.


Saat diinterogasi petugas, pelaku mengaku khilaf lantaran emosi diejek anak-anak. Di lingkungan tempat tinggalnya, SD dikenal pendiam dan tak pernah bergaul dengan masyarakat. Ia juga dikenal temperamental, termasuk ketika menghadapai anak-anak. Padahal, SD juga punya dua anak.


Kekhilafan SD tentu tak dapat dijadikan alasan pemaaf perbuatan. Ia tetap dituntut pidana karena telah menganiaya anak, apalagi sampai menimbulkan luka berat. Anehnya, hanya gara-gara diejek anak, SD langsung naik darah dan bertindak di luar batas. Namanya saja anak-anak, harus mendapat permakluman. Kalau anak kurang ajar, memang harus diingatkan, tapi dengan cara yang edukatif. Tindak kekerasan bukanlah solusi mengatasi anak. Tindak kekerasan hanya akan menimbulkan trauma pada anak, dan menggiring pelakunya ke penjara.


Sifat temperamental atau gampang marah juga tak bisa dijadikan alasan pembenar perbuatan. Meski gampang marah, seorang temperamental masih dapat berpikir sehat, mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang. Karenanya, orang seperti SD yang diduga gampang marah, tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang mengalami kelainan atau gangguan jiwa sebagaimana diatur Pasal 44 KUHP. Artinya, setiap perbuatannya tetap dapat dimintai pertanggungjawaban hukum.


Kasus di atas sebenarnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua atau siapapun, untuk lebih berhati-hati dalam merespons perilaku anak. Anak adalah makhluk kecil yang masih membutuhkan bimbingan orangtua, bukannya malah dianiaya, apalagi dibuat menderita. (Hudono)

Read previous post:
Ikan Bawal Bantu Stabilkan Tekanan Darah

IKAN bawal termasuk ikan air tawar cukup populer. Meski harga di pasaran masih lebih murah dibanding gurami dan nila, namun

Close