Penipu Berlagak Calo

 

 

 

SIAPA tak ingin anaknya diterima sebagai PNS ? Semua orangtua pasti menginginkan anaknya sukses mendapatkan pekerjaan selepas menempuh pendidikan. PNS diyakini menjadi pilihan untuk memperoleh jaminan kehidupan yang lebih baik. Agaknya, hal inilah yang dimanfaatkan Sp, seorang oknum perangkat desa di Kecamatan Pundong Bantul untuk mengeruk keuntungan, yakni dengan berlagak bisa memasukkan orang sebagai CPNS.

Setidaknya tiga korban tertipu dengan janji manis Sp yang menjanjikan bisa memasukkan anak mereka menjadi CPNS di Kementerian Hukum dan HAM. Modusnya meyakinkan, yakni dengan meminta anak mereka tetap mengikuti seleksi resmi, kemudian dibantu melalui jalur khusus sehingga diterima CPNS. Sp mengaku punya bapak angkat yang punya pengaruh kuat untuk memasukkan orang sebagai CPNS di Kemenkumham, asalkan menyerahkan sejumlah uang.

Dari hasil aksi tipu-tipuan ini Sp berhasil mengantongi Rp 600 juta lebih yang berasal dari tiga korbannya. Anehnya, ketika nama anak korban tidak tercantum dalam pengumuman resmi hasil seleksi, mereka masih percaya pada Sp yang mengatakan pemberian SK untuk mereka diundur. Lagi-lagi pelaku meminta uang kepada korban hingga total mencapai Rp 600 juta lebih. Tapi setelah ditunggu cukup lama, janji Sp tak juga terwujud hingga korban lapor polisi.

Sepertinya pelaku memanfaatkan kondisi psikologis korban yang menginginkan anaknya diterima CPNS. Agar aksinya meyakinkan, anak korban pun diminta mengikuti seleksi resmi untuk kemudian dibantu lewat pintu belakang. Sampai di sini, ada unsur spekulasi pelaku, karena bisa jadi anak korban benar-benar diterima karena kemampuannya sendiri, bukan dibantu. Jika ini yang terjadi, pelaku tetap untung karena akan mengklaim bahwa itu berkat usahanya.

Sebaliknya bila gagal, seperti pada kasus di atas, pelaku masih akan meyakinkan dengan berbagai cara, antara lain mengatakan SK diundur dan sebagainya. Biar SK lancar, butuh uang pelicin. Lagi-lagi korban mengeluarkan uang.

Kasus ini sebenarnya penipuan biasa. Sp sebenarnya bukan pula calo, melainkan mengaku calo yang bisa memasukkan siapapun sebagai CPNS asalkan membayar uang. Sp juga mengaku-aku punya kenalan pejabat yang bisa memasukkan seseorang sebagai CPNS. Lagi-lagi, ini hanyalah aksi tipu-tipu Sp yang memang ingin mengeruk uang korban. Kasus tersebut berbeda dengan suap atau sogok. Bila suap, maka harus ditujukan kepada orang yang punya kapasitas mengambil keputusan dalam penerimaan CPNS. Sedang Sp sama sekali tak punya kapasitas itu. (Hudono)

Read previous post:
SIDANG SUSUR SUNGAI SEMPOR- Terdakwa DDS Bertindak sebagai Juru Foto

Close