Kakek Pencuri Infak

 

 


TERKADANG hukum sulit dipahami. Bahkan, makna keadilan pun sulit dicerna. Keadilan tidak identik dengan sama rata maupun sama rasa. Makna keadilan lebih dekat dengan proporsional atau sesuai dengan proporsinya. Adil bagi seseorang bisa saja dirasakan tidak adil bagi orang lain. Cita-cita hukum sebenarnya sangat mulia, yakni menegakkan keadilan dan kebenaran, meski jalannya sulit dan berliku.


Beberapa hari lalu, koran ini memberitakan seorang terdakwa yang boleh disebut kakek, SJ (60) warga Temon Kulonprogo dihukum membayar denda Rp 250 ribu subsider 7 hari kurungan karena terbukti mencuri kotak infak berisi Rp 7 ribu. Sebagian orang mungkin akan bilang hukuman tersebut tidak adil, karena hanya mengambil Rp 7 ribu tapi dendanya berlipat-lipat. Apalagi, orang tersebut sudah lansia.

Sekilas kita mungkin menaruh belas kasihan kepada SJ, namun jarang yang memperhatikan rekam jejak orang tersebut. Ternyata ia sebelumnya juga pernah dihukum 5 bulan karena terlibat aksi pencurian, yakni pencurian tiang listrik untuk proyek pengadaan rel kereta api. Artinya, orang tersebut adalah residivis dan tidak pernah kapok. Bahkan, menurut laporan, warga sekitar sering kehilangan barang dan diduga pelakunya adalah SJ.

Melihat kelakuannya seperti itu, orang pun akhirnya maklum dan menilai putusan hakim sudah tepat. Masih mendingan yang bersangkutan tidak masuk penjara. Bila ia tidak sanggup membayar denda Rp 250 ribu, barulah dikurung selama tujuh hari . Bagi orang awam, hidup di penjara tentu tidak nyaman, apalagi fasilitasnya sangat terbatas.

Bagi SJ boleh saja beranggapan hukuman denda yang dijatuhkan tidak adil, namun hakim tentu sudah punya pertimbangan matang untuk menjatuhkan vonis. Pertanyaannya, mengapa SJ sampai mencuri uang infak yang notabene jumlahnya tidak seberapa ? Apakah tidak ada anggota keluarganya yang memperhatikan hidup SJ hingga harus mencuri ?

Pertanyaan tersebut tentu tak bisa dijawab secara hukum, melainkan lebih pada aspek sosial. Yakni terkait kehidupan sosial SJ di tengah keluarganya, apakah ia sudah dibuang oleh keluarganya atau bagaimana. Karenanya, jauh lebih penting bagaimana kelanjutan kehidupan SJ setelah melaksanakan vonis hakim. Jangan sampai hukuman yang diterima tak membuatnya kapok. Untuk itulah butuh kepedulian semua pihak untuk membantu kehidupan SJ agar tidak mencuri lagi. (Hudono)

Read previous post:
MPBI DIY NILAI MERUGIKAN KAUM BURUH- Tolak Pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja

Close