Pelajar Mencuri dan Mbacok

 

 

 

AKSI pelajar yang satu ini tak bisa disebut heroik, karena bermuatan negatif. Dialah FN (17), warga Rotowijayan Kadipaten Yogya, yang dengan tangkasnya mengayun-ayunkan pedang untuk menakuti warga. Itu terjadi ketika FN dan temannya FH mencuri ikan koi di rumah warga di Jogokaryan, Yogya dan Bantul, pekan lalu. Awalnya, aksinya tidak ketahuan. Namun ketika mereka mencuri lagi, korban memergokinya. Saat hendak dikejar, pelaku malah menakuti-nakuti pemilik rumah dengan pedang.

Warga yang mengetahui aksi FN dan FH pun tak tinggal diam, ikut melakukan pengejaran, hingga akhirnya kedua pelaku berhasil ditabrak di Jalan Parangtritis, kemudian diserahkan ke polisi. Aksi FN tergolong nekat, apalagi saat dikejar, ia menyeret pedangnya hingga ke aspal. Bahkan, ketika hampir tertangkap FN sempat mengayunkan pedangnya, namun berhasil dihindari warga.

Seakan kita tak percaya bahwa pelajar bisa melakukan hal seperti itu. Kenakalannya sudah bukan lagi masuk kategori biasa, tapi luar biasa. Hanya mencuri ikan koi saja, oknum pelajar tersebut akan membacok orang, untung bisa dihindari korban. Ketika diinterogasi petugas, FN mengaku membawa pedang hanya untuk jaga-jaga. Jaga-jaga dari apa ? Padahal, jelas-jelas ia melakukan kejahatan mencuri. Bila pemilik rumah saat itu mendekat, diduga bakal menjadi korban pembacokan.

Atas perbuatannya itu, FN tetap diproses hukum berdasar UU Peradilan Anak. Namun, lantaran usianya mash 17 tahun, ancaman hukuman maksimalnya hanya separoh dari ancaman pidana orang dewasa. Ia tetap dijerat UU Darurat No 12 Tahun 1951, khususnya tentang kepemilikan senjata tajam dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. Sedang, temannya, FH tidak terbukti membawa senjata tajam sehingga hanya dimintai keterangan.

Semestinya, orang seperti FN jangan diberi toleransi hukuman, karena tindakannya sudah kelewatan, bahkan sama sekali tidak mencerminkan seorang pelajar. Karena itu tidaklah tepat bila dalam proses hukumnya nanti ditempuh cara diversi atau penyelesaian perkara di luar hukum. Sebab, bila itu dilakukan, dimungkinkan yang bersangkutan mengulangi perbuatannya dan tidak ada efek jera.

Mencuri, apapun barang yang dicuri, sudah masuk delik pidana, apalagi membawa pedang, baik untuk sekadar mengancam atau membacok, ancamannya jauh lebih berat. Orangtua FN dan FH selayaknya pula dimintai pertanggungjawaban hukum, karena mereka lalai mendidik anaknya. (Hudono)

Read previous post:
PERTENGAHAN JULI 2020- LBH Bhijak Ajukan Uji Materi UU BPJS

Close