‘Track Record’ Penjahat


ISTILAH track record atau rekam jejak sering digunakan untuk menelusuri riwayat prestasi seseorang yang hendak dipromosikan ke suatu jabatan tertentu. Bila rekam jejaknya buruk, maka orang tersebut rawan gagal. Sebaliknya bila bagus, karier bakal berjalan mulus.


Bagaimana di dunia kriminal? Istilah ini jarang dipakai, namun sebenarnya bisa dipakai untuk kepentingan penelitian, misalnya mengapa orang melakukan kejahatan ? Mengapa orang tega menganiaya, dan sebagainya. Teori ini kiranya relevan untuk meneropong kasus curanmor di Sleman. Baru-baru ini jajaran Polres Sleman berhasil menggulung komplotan curanmor yang sering beraksi di berbagai lokasi. Dua dari anggota komplotan yang berhasil diringkus ternyata residivis, yakni MS dan EN.


Menariknya, setelah ditelusuri rekam jejaknya, MS yang merupakan otak komplotan curanmor itu pernah terlibat pembunuhan saat usinya 13 tahun, yang korbannya adalah seorang perempuan. Meski saat itu masih tergolong anak di bawah umur, MS tetap menjalani hukuman sesuai dengan sistem peradilan anak. Selepas menjalani hukuman, ia bukannya insyaf tapi malah mengotaki komplotan pencurian.


Inilah perlunya menelusuri track record atau rekam jejak seseorang. Seorang pelaku kejahatan seperti MS ternyata tak lepas dari rekam jejak yang buram, bahkan sampai menghabisi nyawa orang lain. Demikian halnya dengan EN, ia juga memiliki rekam jejak yang buruk karena pernah terlibat aksi pencurian dengan kekerasan.


Kedua orang tersebut MS dan EN dikategorikan sebagai residivis karena pernah masuk penjara terkait kasus kejahatan. Karena itulah dalam hukum, orang yang mengulangi kejahatan, baik kejahatan yang sama atau sejenis atau kejahatan lainnya, akan dikenai pemberatan hukuman. Hakim akan mempertimbangkan track record ini sebagai faktor yang memberatkan.


Sayangnya, meski berkali-kali masuk penjara, tak serta merta membuat pelaku insyaf. Setelah menjalan ‘pembinaan’ di lapas, masih saja berbuat jahat. Orang sering mengatakan, jenis penjahat seperti ini mungkin sudah dari sononya, artinya sudah mbakat sejak lahir. Begitu pula yang terjadi pada MS, yang saat usia 13 tahun sudah terlibat aksi pembunuhan.


Namun, orang tentu tidak boleh berputus asa. Seperti dalam terori pendidikan, meski ada bakat, namun kalau lingkungannya baik atau kondusif, niscaya takkan terjerumus dalam keburukan. (Hudono)

Read previous post:
CURI DUA EKOR KAMBING- Residivis Dituntut 1,5 Tahun Penjara

Close