Berkerumun, Tetap Jaga Jarak

 


MESKI sempat nihil kasus positif Covid-19 di DIY, namun belakangan melonjak lagi. Bahkan di Bantul sekeluarga terpapar virus corona setelah berinteraksi dengan pasien positif dari Surabaya. Pertanyaannya, lantas kapan kita akan memasuki era kenormalan baru ? Jawabnya belum jelas. Terlebih DIY kembali memperpanjang masa tanggap darurat hingga akhir Juli mendatang. Artinya, kita masih belum bisa masuk ke era normal baru, tepatnya kita sedang memasuki masa transisi.


Kalau hingga akhir Juli nanti orang yang positif terpapar Covid-19 masih saja bertambah, bukan tidak mungkin masa tanggap darurat diperpanjang lagi sebulan ke depan. Begitu seterusnya. Kondisi ini diperparah dengan sikap masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan. Lihat saja di sepanjang jalan, masih kita temui orang-orang yang tidak mengenakan masker. Atau,sekadar memakai masker namun tidak menutup mulut dan hidung. Padahal, dari saluran mulut dan hidung inilah virus ditebarkan.


Kondisi boleh jadi akan lebih parah menyusul dicabutnya Maklumat Kapolri No 2 Tahun 2020 yang menjadi payung hukum dalam membubarkan kerumunan. Kini Satpol PP tak lagi membubarkan kerumunan lantaran Maklumat Kapolri telahdicabut. Meski begitu protokol kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak, cuci tangan, masih tetap diterapkan. Namun, bisakah berkerumun dengan tetap menjaga jarak ? Inilah yang harus dipertimbangkan. Sebab, yang kita tahu saat ini, ketika orang berkerumun, pasti tidak akan menjaga jarak. Itulah mengapa Maklumat Kapolri diterbitkan, karena tujuan sebenarnya adalah agar orang menjaga jarak.


Dengan tidak berkerumun, tentu diasumsikan telah menjaga jarak, sebaliknya bila berkerumun pasti tak lagi jaga jarak. Baiklah, kita tak perlu memperdebatkan soal itu, melainkan fokus pada upaya agar virus mematikan ini tidak terus menyebar. Lantas, bagaimana caranya ? Berkerumun atau tidak, yang penting tetap jaga jarak, paling tidak satu meter. Selain itu, setiap kali berada di luar rumah, harus mengenakan masker. Beberapa daerah di Jateng sudah menerapkan denda bagi mereka yang tidak memakai masker, sementara di DIY masih persuasif, bahkan mereka yang tidak memakai masker malah diberi gratis. Masih kurang apa coba?


Saat ini kita membutuhkan kesadaran kolektif, yakni bukan saja menjaga kesehatan diri sendiri tapi juga orang lain. Dengan memakai masker maka selain memproteksi diri dari paparan virus, sekaligus juga menahan agar virus tidak menyebar ke orang lain. (Hudono)

Read previous post:
SIDANG TRAGEDI SEMPOR- Usulan Pembatalan Susur Sungai Tak Digubris

Close