Clurit Bukan untuk Klitih


TIDAK ada yang salah dengan clurit atau senjata tajam lainnya. Semua tergantung pada orang yang menggunakannya. Clurit bisa digunakan untuk hal-hal positif, untuk mencari rumput misalnya, tapi bisa pula untuk hal negatif, misalnya untuk membacok. Seorang remaja KM (17), warga Banguntapan, agaknya memilih yang kedua, untuk membacok. Padahal, clurit milik ayahnya itu biasanya digunakan untuk mencari rumput.


Tentu tak ada masalah bila sang ayah membawa clurit ketika pergi ke sawah, karena senjata itu dipergunakan semata untuk keperluan bertani. Ceritanya menjadi lain ketika clurit itu dibawa KM yang notabene akan digunakan untuk membacok orang yang dianggap hendak melukai temannya. Tapi belum sampai niat itu terwujud, KM keburu ditangkap polisi lantaran gerak-geriknya mencurigakan ketika berada di seputaran Pom Bensin Singosaren Bantuntapan Bantul atau tempat temannya hendak diserang kelompok lain, pekan lalu.


Ternyata benar dugaan polisi, ketika KM digeledah didapati clurit yang diselipkan di baju. Saat diinterogasi, KM mengaku clurit tersebut hendak ia gunakan untuk balas dendam terhadap orang yang diduga akan menganiaya temannya.


Dalam kasus di atas memang belum terjadi peristiwa pembacokan, namun KM yang membawa clurit tetap diancam pidana sebagaimana diatur dalam UU Darurat No 2 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam. Lantaran yang bersangkutan masih di bawah umur, ia akan diproses berdasar UU Peradilan Anak dengan ketentuan hukuman maksimal yang dapat dijatuhkan adalah separoh dari ancaman pidana orang dewasa.


Itulah bedanya antara clurit yang digunakan untuk mencari rumput dengan yang digunakan untuk nglitih atau melukai orang lain. Cluritnya sama, namun konsekuensi hukumnya berbeda. Bila ayah KM membawa clurit ke sawah, patut diduga hendak digunakan untuk keperluan yang berhubungan dengan pertanian, antara lain mencari rumput. Sedangkan bila dibawa KM, patut dicurigai akan digunakan untuk hal-hal negatif, membacok dan sebagainya.


Berkaitan itu, polisi tetap harus hati-hati memeriksa kasus ini, karena tersangkanya masih anak-anak. Karena clurit tersebut belum digunakan untuk melukai orang lain, selayaknya hukuman diarahkan pada pembinaan, misalnya dengan mewajibkan yang bersangkutan kerja sosial dan sebagainya. Bila mengulangi perbuatannya, barulah ia dikenai sanksi lebih keras. (Hudono)

Read previous post:
SIR Law Firm-BNNK Sleman Perangi Narkoba

Close