Perempuan Pencuri

 

 

AKSI pencurian ternyata tidak hanya dimonopoli laki-laki. Dengan berbagai alasan, terutama alasan ekonomi, seorang perempuan berinisial NV (25) asal Riau nekat mencuri di rumah kos korban, Roni Adetian (21), asal Indramayu , di Umbulmartani Ngemplak Sleman pekan lalu.

Awalnya, perempuan jebolan perguruan tinggi ini sukses mengambil sepatu dan dimasukkan jok motor, selanjutnya kembali lagi ke kamar korban mengambil laptop. Begitu keluar dari kamar, teman korban memergokinya. NV berusaha kabur namun akhirnya tertangkap dan kini harus menjalani proses hukum di Polres Sleman.

Seperti biasa, ketika pelaku kejahatan tertangkap dia akan berdalih faktor ekonomi. Dengan kata lain, ia mencuri karena didorong faktor ekonomi. Padahal belum tentu alasan itu benar. Boleh jadi, memang ada bakat dalam diri pelaku untuk mengambil barang milik orang lain. Apalagi, melacak track record NV, yang bersangkutan pernah terlibat kasus serupa hingga dikeluarkan dari tempat kuliahnya.

Dalam menangani aksi kejahatan, hukum tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Meskipun akhirnya tertangkap, tindakan NV tetap dikategorikan sebagai pencurian, karena yang bersangkutan telah berhasil membawa kabur barang korban dan memasukkannya di jok motor. Sedang aksi yang kedua ia gagal lantaran kepergok teman korban. Atas tindakannya ini pelaku tetap dijerat Pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman pidana penjara maksimal 5 tahun.

Jauh-jauh dikuliahkan ke Yogya, NV malah mencuri. Boleh jadi orangtua NV di Riau belum mengetahui kelakuan putrinya. Perguruan tinggi tempat NV menimba ilmu tentu tak mau ambil risiko dan memutuskan untuk memberhentikan NV sebagai mahasiswa. Bagaimanapun, ini adalah fenomena di masyarakat yang patut menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Bila kita cermati, di masa pandemi corona ini, kejahatan bukannya menurun, tapi kencenderungannya malah naik. Apalagi, pengangguran makin meningkat, membuat orang stres dan memilih jalan pintas, antara lain mencuri. Memang untuk menemukan motif, polisi harus melakukan pendalaman, bukan hanya terkait dengan motif ekonomi semata, tapi juga faktor lain, misalnya keluarga maupun lingkungan pergaulan.

Masyarakat tetap harus waspada, karena terkadang pelaku adalah orang yang tidak diduga. Seperti pada kasus di atas, mungkin orang tidak menyangka bila pelaku pencurian adalah perempuan. Dengan begitu pelaku kejahatan tidak mengenal jenis kelamin. (Hudono)

Read previous post:
Cerita Bergambar W.A.S.P

Close