Gara-gara Pacaran Kebablasan

 

 

TAKUT menikah ? Bila pertanyaan itu ditujukan kepada mahasiswa, mungkin mayoritas akan menjawab ya, alasannya belum siap secara ekonomi. Akibatnya, mereka lebih memilih berpacaran sampai waktu relatif lama. Akibat selanjutnya pun mudah diduga, pacaran yang kebablasan berisiko kehamilan. Inilah yang mereka khawatirkan.

Hal itulah yang dialami pasangan kekasih, M (20) dan A (21), yang keduanya masih berstatus mahasiswa. Akibat pacaran yang terlalu lama dan pengaruh pergaulan bebas, sang perempuan pun hamil hingga melahirkan anak. Mungkin keduanya panik dan mengambil jalan pintas, yakni membuang bayi hasil hubungan gelapnya di pinggir jalan Dusun Gunungharjo Prambanan. Bayi perempuan tersebut ditemukan warga Minggu pekan lalu dan kini masih dalam perawatan di RSUD Prambanan.

Berdasar keterangan saksi, polisi akhirnya berhasil menangkap sepasang kekasih yang membuang bayi tersebut sekaligus menetapkan mereka sebagai tersangka. Mereka terancam pidana berlapis, baik KUHP khususnya tentang pembuangan bayi maupun UU Perlindungan Anak. Berdasar interogasi petugas, keduanya membuang bayinya lantaran belum siap untuk menikah.

Tentu ini bukan alasan yang dibenarkan hukum. Perbuatan kedua oknum mahasiswa ini jelas masuk kategori tidak bertanggung jawab. Namun kasus ini tak bisa digeneralisasi, karena tidak semua mahasiswa berkelakuan seperti M dan A. Seharusnya, mahasiswa berani berbuat, harus pula berani bertanggung jawab.

Bila kita telaah, pergaulan bebas yang menyebabkan mahasiswi hamil memang tidak bisa dijerat pasal-pasal KUHP, terlebih hubungan mereka didasari rasa suka sama suka. KUHP yang berlaku saat ini belum menjangkau tindak perzinaan yang dilakukan perempuan lajang dan laki-laki lajang. KUHP hanya menjerat mereka yang berbuat zina, bila salah satu atau keduanya telah terikat perkawinan sah. Meski begitu, perbuatan mereka tetap melanggar norma masyarakat dan agama.

Persoalan menjadi makin rumit ketika mereka melahirkan anak. Andai mereka tidak membuang bayinya, melainkan menyerahkannya kepada lembaga sosial atau panti asuhan, misalnya, niscaya, persoalannya tidak sampai ke polisi. Tindakan tersebut jauh lebih manusiawi ketimbang membuang anak di jalan, meski dengan maksud agar anak tersebut ditemu orang lain dan dirawat. Untungnya anak tersebut masih bisa diselamatkan, sehingga tidak masuk kategori pembunuhan bayi. Namun, orangtua bilogis bayi tersebut tetap harus bertanggung jawab di depan hukum. (Hudono)

Read previous post:
KASUS PENGANIAYAAN MULAI DISIDANGKAN – Terdakwa Sayat Kepala Korban

Close