Bisnis Pil Koplo

 

DI masa pandemi Covid-19 ini, orang sulit mencari pekerjaan. Sementara mereka yang sudah mendapat pekerjaan layak pun bisa terpental karena perusahaan tempatnya bekerja mengalami kesulitan keuangan, bahkan pailit. Dalam kondisi demikian, orang harus kreatif dengan menciptakan lapangan kerja sendiri.

Sayangnya ada yang memilih jalan pintas, yakni menjual pil koplo atau obat daftar G dengan harapan meraih keuntungan berlipat tanpa harus bekerja keras. Itulah yang dilakukan AA (23), warga Gondokusuman Yogya yang memilih menjual pil koplo. Alasannya, untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Tentu itu bukanlah alasan yang tepat, karena masih banyak lapangan kerja lain yang halal dan tidak melanggar hukum.

Ternyata AA bukan sekali ini terlibat peredaran pil koplo. Bahkan, sebelumnya ia pernah mendekam di penjara untuk kasus yang sama. Artinya, penjara tidak membuatnya kapok, malah ia lebih berpengalaman di dunia hitam. Untungnya masyarakat masih peduli, sehingga melaporkan yang besangkutan ke polisi hingga ditangkap beserta barang bukti 4.000 butir pil koplo. Secara bisnis, mungkin saja sangat menguntungkan, namun taruhannya penjara.

Hal menarik, dari mana AA mendapatkan barang haram tersebut ? Menurutnya barang itu ia dapatkan dari seseorang yang kini masih dikejar. Tindakan AA bukan hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga orang lain. Apalagi, menurut pengakuannya, barang haram tersebut diedarkan ke kalangan remaja. Sungguh ini tindakan yang sangat berbahaya, karena akan meracuni para remaja yang notabene generasi yang menjadi andalan bangsa.

Karena ada tindakan pengulangan, semestinya hukuman AA diperberat, apalagi ia tidak menunjukkan rasa penyesalan. Bahkan, selepas menjalani hukuman nanti, belum tentu yang bersangkutan insyaf, sehingga masih ada kemungkinan mengulangi lagi. Apalagi bila hanya dihukum ringan, dikhawatirkan tidak menimbulkan efek jera.

Diharapkan langkah kepolisian tidak berhenti sampai di situ, melainkan terus mengembangkan kasus tersebut dan membongkar jaringannya. Bukan tidak mungkin kasus tersebut melibatkan oknum tenaga medis atau farmasi. Sebab, secara normatif, untuk mendapatkan obat daftar G harus menyertakan resep dokter. Dari mana pula pelaku mendapatkan pil koplo sebanyak itu, mencapai ribuan butir, ini menjadi tantangan bagi kepolisian untuk mengungkapnya. (Hudono)

Read previous post:
Lukman Marjabinie
SIAPKAN SINGLE ANYAR – Lukman Marjabinie Akhiri Hiatus

LUKMAN Marjabinie tampaknya tak bisa berpisah dari dunia musik. Sempat hiatus selama empat tahun usai tak lagi melanjutkan aktivitas musik

Close