Tragisnya Kematian DC

 


KASUS pembunuhan sadis yang menimpa Indro Prasetyo, warga Gondokusuman, di Sendang Kasihan Bantul beberapa hari lalu, masih menjadi misteri dan perbincangan hangat masyarakat. Aksi empat orang terhadap Indro sungguh kelewat sadis. Indro meninggal secara tragis. Berdasar keterangan saksi mata, Indro yang saat itu sedang berdua dengan seorang wanita di gazebo tiba-tiba didatangi empat laki-laki, dan seorang di antaranya langsung membabatkan clurit. Darah pun mengucur deras dari sejumlah luka di tubuh korban. Meski sudah meminta pertolongan dan warga pun membawanya ke rumah sakit, nyawa Indro tidak tertolong.


Mengapa orang tega berbuat sekeji itu ? Kalaupun ada masalah antara korban dengan pelaku, mengapa nyawa harus melayang ? Kebetulan Indro adalah seorang debt collector (DC) yang boleh dibilang sering berhubungan dengan banyak orang, khususnya dalam kaitan tugasnya menagih angsuran atau utang.


Harus diakui, di masyarakat kita profesi DC sering dikaitkan dengan kekerasan maupun ancaman kekerasan. Padahal sebenarnya, DC adalah profesi yang sah sepanjang dilakukan sesuai aturan. Artinya, DC dalam menjalankan tugasnya menagih utang, tidak boleh menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan. Dalam lapangan hukum perdata memang diperbolehkan seseorang menggunakan jasa orang lain untuk menagih utang yang kemudian kita kenal sebagai debt collector atau penagih utang.


Dalam beberapa kasus, DC sering berurusan dengan hukum lantaran melakukan kekerasan maupun ancaman kekerasan. Biasanya itu dilakukan DC lantaran kesulitan menagih utang, apalagi menghadapi debitur yang bandel. Nah, dalam kondisi apapun, seharusnya DC tidak menggunakan cara kekerasan karena bakal berbuntut tuntutan hukum.


Kini, dalam kasus meninggalnya Indro Prasetyo, orang awam mungkin berspekulasi bahwa peristiwa tersebut tidak terlepas dari profesi korban sebagai DC . Padahal, belum tentu juga. Pun ada yang mengaitkannya dengan masalah asmara, terlebih saat itu korban sedang bersama seorang wanita. Spekulasi ini akan terjawab setelah polisi berhasil menangkap pelaku berikut motifnya.


DC sekalipun tetap berhak mendapat perlindungan hukum, apalagi telah menjalankan tugas dengan benar. Artinya, meski korban berprofesi DC ia tetap berhak hidup dan tak seorangpun berhak menghilangkan nyawanya dengan semena-mena. Kasus ini menjadi fenomenal karena terjadi di saat semua orang sedang fokus menghadapi ancaman Covid-19 yang belum juga berakhir. Ternyata, kejahatan itu tetap terjadi di tengah pandemi yang notabene juga mengancam keselamatan manusia. (Hudono)

Read previous post:
Peugeot RCZ Reborn, Coupe Sporty Makin Melegenda

Close