Mabuk Saat Berkendara

 

 

 

MABUK bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Apalagi saat mengendarai kendaraan dalam kondisi mabuk, rawan mengalami kecelakaan, dan sangat membayahakan keselamatan diri maupun orang lain. Seperti halnya orang mengantuk, disarankan untuk tidak mengemudi kendaraan karena bisa mengancam keselamatan jiwa.

Itulah yang terjadi pada HTS (44), warga Nyamplung Kidul, Gamping Sleman Rabu malam pekan lalu. Dalam kondisi mabuk ciu, HTS yang memboncengkan temannya tidak bisa mengendalikan motornya hingga menabrak tiang besi pembatas rel di Dusun Gancahan. Sidomulyo Godean Sleman. Saat itu ia berusaha menghindari kereta api yang hendak lewat, namun upayanya gagal, malah menabrak tiang hingga keduanya terpental. HTS tewas di lokasi kejadian, sedang temannya harus dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka cukup serius.

Itulah efek minuman keras yang membuat HTS tak bisa lagi mengontrol laju kendaraan, bahkan malah ngebut hingga berakhir dengan kematian. Andai saat itu ia tak mengendarai motor, tidur di rumah misalnya, tentu tidak berakibat fatal. Dan lebih penting lagi, ia tidak akan membahayakan orang lain.

Orang dalam kondisi mabuk kemudian mengemudi kendaraan, entah itu motor atau mobil, sangatlah membahayakan keselamatan. Akibat perbuatannya, bukan HTS saja yang celaka, tapi juga teman yang diboncengkan karena harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit akibat lukanya.

KUHP melarang orang mabuk berkeliaran di jalan dan mengganggu ketertiban umum. Terkadang orang yang tidak mabuk enggan memperingatkan karena tak mau repot berurusan dengan orang lain. Akibatnya orang mabuk makin tak terkendali dan membahayakan keselamatan jiwa.

Biasanya polisi juga tidak selalu memantau orang mabuk di jalan. Petugas mengetahui setelah ada kejadian, entah itu kecelakaan atau tindak kekerasan. Dari peristiwa itulah kemudian terungkap bahwa pelaku dalam kondisi mabuk.

Selama ini razia miras yang digelar aparat kepolisian lebih fokus pada aspek administratif, misalnya penjual miras yang tidak mengantongi izin usaha. Sementara, mereka yang menenggak miras malah banyak yang luput dari razia. Keduanya sama bahayanya. Penjual menyediakan sarana atau alat untuk mabuk, sementara konsumen memperoleh akses untuk mabuk. Jadi kalau mau dirazia, mestinya keduanya, baik yang jual miras maupun konsumen miras. (Hudono)

Read previous post:
KAPOLRI JUGA BERI PENGHARGAAN WBBM- Polres Sleman Raih Predikat Bebas dari Korupsi

Close