Bila Teman Memperkosa

 

PERKOSAAN terkadang dilakukan oleh orang yang sangat dikenal korbannya, pacar misalnya. Dan, selalu dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan, tak bisa sebaliknya. Karenanya, kita tak pernah mendengar ada laki-laki diperkosa oleh perempuan. Pasal 285 KUHP tentang perkosaan jelas menyebut bahwa perkosaan adalah tindakan paksa, baik dengan kekerasan maupun ancaman kekerasan oleh laki-laki kepada perempuan untuk melakukan persetubuhan.

Lantas, bagaimana bila laki-laki memaksa laki-laki ? Dalam KUHP, tindakan tersebut masuk kategori pencabulan. Begitu pula laki-laki dewasa terhadap bocah laki-laki, masuk kategori pencabulan. Untuk hal yang disebut terakhir ini ancaman hukumannya jauh lebih berat hingga 15 tahun penjara karena korbannya masih anak-anak.

Beberapa hari lalu di wilayah hukum Depok Barat, Sleman, seorang perempuan berinisial V (22) diperkosa oleh temannya, JY (25) asal Lampung di kos-kosan mewah kawasan Depok. Kebetulan JY adalah penjaga kos tersebut. Berlagak minta diantar ke rumah neneknya di Babarsari, JY membujuk V hingga datang ke kosnya dan langsung masuk kamar. Di tempat itulah, V diperkosa.

Mereka sebenarnya sudah saling mengenal. Namun, entahlah mengapa saat itu JY memperkosa V, yang kemudian menangis setelah kejadian. JY pun berusaha menenangkan dengan mengatakan dirinya akan bertanggung jawab. Namun, korban yang ditemani keluarga tetap melapor ke Polsek Depok Barat. Dalam waktu relatif singkat JY pun dibekuk di kosnya.

Mungkin ada yang mempersoalkan, benarkah tindakan JY masuk kategori perkosaan ? Semua tentu akan dibuktikan di pengadilan. Untuk membuktikan peristiwa perkosaan memang harus cukup bukti, setidaknya dua alat bukti. Dalam kasus tersebut, saksi mata tentu hanya korban. Sedang pelaku hanya akan dikejar dengan pengakuan.

Karenanya, untuk melengkapi alat bukti, polisi harus menyertakan visum dokter yang menunjukkan telah terjadi tindakan paksa, baik kekerasan maupun ancaman kekerasan untuk melakukan persetubuhan. Dalam praktiknya, hukuman terhadap pelaku perkosaan tidak maksimal sebagaimana diatur Pasal 285 KUHP, yakni 12 tahun penjara.

Ini terjadi lantaran bukti-bukti yang diajukan ke persidangan kurang meyakinkan, misalnya ada indikasi peran korban sehingga perkosaan terjadi. Atau bisa saja, yang terjadi adalah pencabulan, belum sampai pada perkosaan. Terlepas dari itu, hakim pasti akan memeriksa kasus asusila ini dengan cermat sehingga pelaku tak bisa berkelit, meski mungkin ancaman hukumannya tak maksimal. (Hudono)

Read previous post:
PSS Kaji Plus Minus Liga Tanpa Penonton

Close