Sambut New Normal di DIY

 

SIAPKAH DIY menyongsong new normal atau normal baru di tengah pandemi Covid-19 ? Pertanyaan itulah yang muncul ketika DIY disebut-sebut oleh pemerintah pusat akan dijadikan sebagai proyek percontohan dalam penerapan era normal baru di tengah wabah corona . Jawabnya sebenarnya tergantung dari masyarakatnya. Siapkah masyarakat untuk hidup disiplin dan taat pada protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 ?

Bila masyarakat belum siap, maka era normal baru pun belum siap untuk diterapkan, begitu sebaliknya. Sementara pemerintah DIY telah memperpanjang masa tanggap darurat mulai 30 Mei hingga 30 Juni 2020. Artinya, DIY sebenarnya belum siap menyambut era normal baru, yakni hidup berdampingan atau berdamai dengan virus corona dalam waktu dekat ini.

Hidup berdamai dengan virus corona yang pernah digulirkan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu sempat mengundang kontroversi di masyarakat. Seolah-olah, masyarakat tidak perlu melawan virus tersebut dan membiarkannya hidup secara berdampingan. Namun, para pembantu presiden kemudian meluruskan pernyataan tersebut agar masyarakat tidak salah tafsir. Intinya, masyarakat tetap harus melawan Covid-19.

Terlepas kontroversi itu, agaknya pernyataan Presiden menjadi relevan untuk diterapkan dalam kondisi saat ini seiring rencana pemerintah menerapkan era normal baru. Dalam era normal baru ini, sentra-sentra ekonomi dibuka kembali, perkantoran juga beraktivitas lagi, destinasi wisata dibuka dan hotel-hotel juga beroperasi kembali. Ini dilakukan demi menggerakkan ekonomi yang selama ini terpuruk.

Lantas, apa bedanya dengan sebelum pandemi Covid-19 ? Bedanya, dalam era normal baru ini, protokol kesehatan diterapkan secara ketat, termasuk pengawasannya. Sektor yang beroperasi kembali juga harus menerapkan standar operasional prosedur (SOP) baru yang kini sedang digodok di masing-masing daerah. Misalnya, di sektor pariwisata, harus ada SOP yang menjamin tidak ada penularan atau transmisi virus.

Physical distancing dan social distancing juga tetap diberlakukan secara ketat, sehingga tidak boleh ada kerumunan. Boleh dibilang cara ini cukup efektif sepanjang dilaksanakan secara disiplin dan konsisten. Dalam kaitan itu, pengawasan menjadi hal yang paling penting, mengingat masyarakat selama ini banyak melakukan pelanggaran, misalnya tidak memakai masker, tidak cuci tangan, dan sering berkerumun.

Itulah pentingnya fungsi pengawasan, karena masih banyak terjadi pelanggaran. Lihat saja di pasar-pasar tradisional, masih banyak yang enggan memakai masker. Karena itu, kalau DIY hendak menerapkan new normal, mekanisme pemberian sanksi bagi pelanggar harus diterapkan secara ketat. (Hudono)

Read previous post:
FOKUS ANGGARAN UNTUK PEMULIHAN PANDEMI – Popda dan Peparpeda DIY 2021 Ditiadakan

YOGYA (HARIAN MERAPI) - Tak hanya pelaksanaan kegiatan olahraga pada tahun 2020, sejumlah program milik Balai Pemuda dan Olahraga (BPO)

Close