Bayi Kembar Malang

ilustrasi
ilustrasi

 

PENEMUAN mayat bayi kembar di tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan Bantul beberapa hari lalu sungguh menyayat hati. Dua bayi perempuan itu ditemukan sudah tidak bernyawa dan berada di timbunan sampah tanpa pembungkus apapun. Bayi malang itu dibawa dump truk dari Pringgokusuman Kota Yogya menuju TPA Piyungan. Berdasar pemeriksaan medis, kedua bayi itu tidak lahir secara prematur, namun diduga tidak melalui persalinan medis.

Siapa orang yang tega berbuat sekeji itu terhadap makhluk mungil ciptaan Tuhan ? Dugaan paling awam akan mengarah pada si orangtua bayi. Namun, siapa mereka ? Tentu ini menjadi tantangan bagi aparat kepolisian untuk mengungkapnya. Setidaknya, sudah ada petunjuk bahwa bayi tersebut dibawa dari tempat sampah Pringgokusuman. Sangat boleh jadi, si pembuang bayi berdomisili tak jauh dari tempat itu.

Berkaitan itu, polisi diharapkan mencari informasi seputar perempuan hamil tua pada pekan-pekan terakhir di kawasan Pringgokusuman. Biasanya warga paham dan bisa menunjukkan siapa yang sedang hamil tua di wilayahnya. Keterangan ini bisa menjadi bahan bagi kepolisian untuk mengungkap lebih jauh pelaku maupun motifnya.

Peristiwa di atas tentu membuat kita miris. Di tengah sebagian orang kesulitan mendapatkan keturunan, bahkan harus mengeluarkan biaya hingga ratusan juta rupiah, ada orang yang sama sekali tidak menghargai nyawa manusia dan dengan kejinya membunuh darah daging sendiri. Dalam kasus seperti ini, biasanya orangtua terlibat hubugan gelap (hugel) dengan pasangan tak resmi, atau malah keduanya bisa saja belum terikat perkawinan sah. Namun mengapa bayi tak bersalah harus menjadi korban ?

Hanya karena merasa malu bila kelahirannya diketahui orang lain, seorang ibu tega membunuh bayinya untuk kemudian membuangnya. Jika demikian, yang bersangkutan melakukan dua kejahatan sekaligus, yakni berhubungan tak sah (bukan resmi suami-istri) dan menghilangkan nyawa bayi.

Biasanya, dalam kasus seperti ini, polisi berhasil mengungkapnya. Setelah tertangkap, pelaku kemudian menyatakan penyesalannya. Namun penyesalan itu takkan menghilangkan unsur pidana, sehingga pelaku tetap dijerat UU Perlindungan Anak maupun KUHP. Sejauh ini ada anggapan yang keliru di kalangan perempuan, yakni bayi yang dilahirkan dari rahim perempuan boleh diperlakukan sesuai kehendak ibunya. Ini salah besar. Sebab, bayi punya hak hidup sendiri, sedang sang ibu bukanlah pemilik yang bisa berbuat semaunya terhadap bayi yang dilahirkan. (Hudono)

Read previous post:
USAI LIBUR LEBARAN 1441 H- Forpi Pastikan Tak Ada ASN Bolos

  YOGYA (MERAPI) - Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Yogyakarta memastikan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota

Close