Korban Cinta Terlarang

ilustrasi
ilustrasi

SUNGGUH ini peristiwa tersadis yang terjadi saat pandemi Covid-19 di bulan Ramadan di Temanggung. Seorang ibu muda dan putrinya yang berusia 6 tahun dibantai seorang pria misterius di rumahnya di Desa Tleter Kebupaten Temanggung, Rabu subuh pekan lalu. Ernawati (28), ibu muda itu, mengalami luka serius di bagian kepala hingga koma, sedang putrinya, Avi (6) meninggal dunia akibat bacokan di bagian kepala. Mereka ditemukan ibu Ernawati sepulang dari salat Subuh di masjid, sudah dalam keadaan tak bergerak dan berlumuran darah. Pria macam apa yang tega membunuh Avi yang notabene tak punya salah apa-apa ?

Berdasar informasi, peristiwa tersebut dipicu masalah asmara antara pelaku dengan korban, Ernawati. Namun seperti apa duduk perkaranya, masih terus didalami petugas. Tapi apa urusannya dengan Avi, gadis kecil, yang tidak tahu apa-apa ?

Tentu ini menjadi tantangan bagi polisi untuk segera menangkap pelaku. Terlebih, polisi telah mengantongi ciri-ciri pelaku berdasar keterangan sejumlah saksi. Kalaupun peristiwa ini terkait dengan cinta segitiga, atau cinta terlarang, mengapa harus berakhir dengan kematian seorang bocah tak berdosa ? Polisi harus memprioritaskan penanganan kasus ini, karena bila pelaku tidak tertangkap, masyarakat akan marah karena ada bocah dibunuh namun pembunuhnya tidak tertangkap.

Diharapkan masyarakat juga membantu polisi memberikan informasi terkait peristiwa tersebut, berikut pelakunya. Apalagi, ada dugaan bahwa pembunuhan itu berlatar belakang asmara, sehingga boleh jadi bukan bersifat spontan. Artinya, tidak menutup kemungkinan pembunuhan tersebut telah direncanakan pelaku, sehingga yang bersangkutan dapat dikenai pasal tentang pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHP) dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Masalah asmara memang bisa membawa petaka. Hanya karena cinta terlarang, orang bisa kalap dan membunuh atau menganiaya. Kebetulan, dalam peristiwa di atas, suami Ernawati tidak berada di rumah karena bekerja di Kalimantan. Polisi harus mengorek sejauh mana hubungan pelaku dengan korbannya dan mengapa pelaku sampai tega menganiaya Ernawati dan membunuh putrinya. Sebab, dalam peristiwa tersebut, putri Ernawati tidak punya keterkaitan apapun dengan pelaku.

Selayaknya bila pelaku tertangkap, diterapkan ancaman hukuman maksimal, yakni dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Indikasi itu nampak dari tindakan pelaku yang membawa senjata tajam. Namun perlu diselidiki apakah senjata tersebut dibawa dari rumah, atau sudah ada di tempat itu. (Hudono)

Read previous post:
Cerita Bergambar W.A.S.P.

Close