Nekat Karena Depresi

ilustrasi
ilustrasi

PANDEMI Covid-19 membuat kehidupan ekonomi masyarakat makin terpuruk. Mereka kian merasakan betapa sulitnya mencari uang untuk menghidupi keluarga. Akibatnya, cara apapun dilakukan agar dapur tetap ngebul. Di tengah situasi demikian, transaksi jual beli, utang-piutang dan sebagainya pun terkena imbas. Misalnya, mereka yang semula lancar mencicil pembelian kendaraan bermotor, tiba-tiba macet karena tidak ada uang untuk mengangsur. Lembaga pemberi pinjaman, seperti pegadaian pun diserbu warga.

Bagi sebagian orang, mungkin maklum dengan situasi seperti itu, tapi ada pula yang stres dan berlanjut depresi. Setelah itu, karena tak kuat menanggung beban, dipilihlah cara nekat dengan mengakhiri hidup atau bunuh diri. Padahal, itu bukanlah solusi mengatasi masalah. Agaknya, itulah yang dilakukan seorang pemuda berinisial E (28), warga Selomartani Kalasan Sleman, Sabtu pekan lalu. Diduga karena macet membayar cicilan motor, yang bersangkutan stres hingga memilih jalan nekat gantung diri di samping rumahnya. Ia meninggalkan istrinya yang baru hamil muda.

Bunuh diri karena faktor eknomi, memang sudah menjadi fenomena yang jamak di masyarakat. Bahkan, seperti di Gunungkidul, angkanya terus naik. Antara faktor ekonomi dan sakit yang tidak kunjung sembuh jumlahnya seimbang. Karena itu, di wilayah tersebut telah dibentuk semacam satuan tugas untuk menanggulangi masalah bunuh diri. Meski begitu, sejauh ini hasilnya belum signifikan.
Kita tentu khawatir bila kasus di atas merembet ke persoalan lain. Jangan sampai, misalnya, orang yang macet membayar iuran BPJS, juga mengalami hal serupa, depresi dan berlanjut tindakan nekat. Terlebih saat ini pemerintah secara sepihak menaikkan iuran BPJS yang besarannya hampir 100 persen, maka tekanan hidup masyarakat makin berat.

Tentu saja mereka, terutama para pengambil kebijakan tak pernah merasakan betapa sulitnya kehidupan masyarakat saat ini, karena memang tak pernah hidup kesusahan. Ini berbeda bila mereka pernah merasakah sulitnya mencari uang, tentu ada empati sehingga tidak gampang untuk membuat kebijakan yang membebani masyarakat.

Harapannya, kasus di atas bersifat kasuistis, sehingga tidak merembet ke mana-mana. Jika demikian, kualitas keimanan seseorang menjadi kunci kesuksesan menghapai berbagai cobaan, termasuk cobaan berupa kekurangan harta dan makanan. Namun, dalam situasi yang serba sulit ini, diharapkan pemerintah lebih merasakan denyut kehidupan masyarakat kecil yang benar-benar kesulitan untuk bertahan hidup. (Hudono)

Read previous post:
TERBUKTI TERIMA SUAP RP 221 JUTA PROYEK SAH -Jaksa Eka Divonis 4 Tahun, Satriawan 1,5 Tahun

  YOGYA (MERAPI) - Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) diketuai Asep Permana SH MH menjatuhkan vonis terhadap jaksa

Close