Pengamen- Anjal Beraksi

ilustrasi
ilustrasi

 

SUASANA Kota Yogya dan sekitarnya sepertinya mendekati normal, lalu lintas jalan mulai ramai orang berlalu lalang, sejumlah kerumunan orang juga mudah terlihat di beberapa sudut jalan. Kondisinya seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal, di balik itu, virus corona atau Covid-19 terus menebar teror, korban meninggal terus bertambah dan jumlah orang yang terinfeksi pun meningkat. Mengapa masyarakat masih nyantai saja, seperti tidak terjadi apa-apa ?

Beberapa warga ketika ditanya berdalih, kalau tidak keluar rumah, lantas mau makan apa ? Mereka mengaku tidak bisa berlama-lama di rumah, karena harus mencari nafkah agar dapur tetap ngebul. Kelompok ini mungkin belum tersentuh bantuan dari pemerintah. Ini berbeda dengan mereka yang sudah mendapatkan jadup perbulan. Lain pula dengan mereka yang ke luar rumah untuk kepentingan yang tidak urgen, misalnya hanya nongkrong-nongkrong sambil wedangan.

Untuk hal yang disebut terakhir ini mudah kita jumpai hampir di setiap ruas jalan di Yogya. Meski Pemda DIY mengklaim telah membubarkan 1.426 kerumunan orang untuk mencegah penyebaran Covid-19, nyatanya kita masih gampang menyaksikan kerumunan itu di sepanjang jalan. Boleh jadi, ketika dirazia, mereka bubar, namun setelah petugas pergi, kerumunan itu muncul kembali, begitu seterusnya.

Hal yang paling ironis, para pengamen dan anak jalanan pun mewarnai jalanan di Yogya. Lihat saja di Ringroad Giwangan, dengan mudah kita bisa menyaksikan pengamen beraksi tanpa kena razia. Entahlah, apa kondisi ini memang dibiarkan atau para pengamen itu kucing-kucingan dengan petugas. Bahkan, tanpa wabah corona sekalipun, keberadaan pengamen maupun pengemis itu tetap melanggar Perda. Selayaknya, kondisi ini ditertibkan, karena bukan tidak mungkin mereka juga berkontribusi ikut menyebarkan virus.

Paling tidak, aparat melakukan pendataan asal- usul mereka, karena ini sangat penting dalam upaya pencegahan Covid-19. Belum lagi pengamen angklung yang kini marak lagi, sepertinya juga dibiarkan. Mungkin mereka akan berdalih mencari rezeki kok dilarang. Tentu bukan itu persoalannya, karena mencari rezeki tetap harus mengindahkan aturan dan tidak membahayakan orang lain. Boleh jadi para pengamen itu bukan berasal dari DIY. Sebaiknya, aparat segera bertindak menertibkannya. Seperti di Karanganyar, aparat bertindak tegas mengamankan anak jalanan yang berkeliaran di jalan. Jadi, tunggu apa lagi ? (Hudono)

Read previous post:
Peran Kostra Tani Sebagai Ujung Tombak Ketahanan Pangan

Close