Maling Tak Kapok

ilustrasi
ilustrasi

 

BELAKANGAN ini aksi kriminalitas di DIY muncul lagi, setelah beberapa pekan sebelumnya sempat vakum menyusul merebaknya virus corona. Bahkan, aktivitas masyarakat pun mulai ramai kembali. Mereka beralasan, bila tidak keluar rumah, maka dapur tidak ngebul, karena tidak ada penghasilan.

Lain lagi yang dilakukan YC (39), warga Jetisharjo, Cokrodiningratan Yogya, yang keluar rumah bukannya mencari nafkah secara halal, melainkan melakukan kebiasaan buruknya, yakni mencuri. Sepertinya ia tidak pernah kapok masuk penjara. Padahal sudah sembilan kali ia masuk penjara karena terlibat perampokan dan pencurian. Selepas keluar dari penjara tahun 2016, residivis ini kembali melakukan pencurian, kali ini di rumah Burhan Fajar (41) warga Lodadi Ngemplak Sleman dengan sasaran burung ocehan.

Dasar residivis, ketika berpapasan dengan korbannya, bukannya kabur, tapi malah menolak menyerahkan burung yang dicurinya. Korban pun kemudian berteriak maling sehingga warga kampung berdatangan. Tak ayal, YC menjadi bulan-bulanan massa sampai akhirnya polisi yang sedang patroli mengamankannya.

Saat diinterogasi petugas, YC dengan entengnya mengatakan mencuri karena untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Persoalannya, mengapa harus mencuri, bukankah masih banyak pekerjaan halal yang bisa dilakukannya ? Track record YC di dunia kriminalitas tak terbantahkan. Lembaga pemasyarakatan sepertinya tak mampu mengubah dirinya menjadi orang baik. Padahal fungsi Lapas adalah mengubah perilaku negatif menjadi positif sehingga diterima kembali di masyarakat.

Boleh jadi, karena seringnya melakukan pencurian, YC mengalami kelainan jiwa, yakni kesenangan mengambil barang milik orang lain untuk dimiliki. Dalam hukum pidana, orang seperti ini tetap dapat dijatuhi hukuman, karena yang bersangkutan masih bisa berpikir sehat. Ini berbeda dengan orang gila yang sama sekali tak bisa berpikir sehat, sehingga perbuatannya tak bisa dipertanggungjawabkan secara hukum sebagaimana diatur Pasal 44 KUHP.

YC diancam Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara. Namun, dalam persidangan nanti hakim bisa saja mempertimbangkan faktor yang memberatkan terdakwa karena telah berulang kali melakukan kejahatan serupa. Artinya, hukuman yang ia terima selama ini tidak membuatnya jera atau kapok, sehingga perlu ada pemberatan hukuman. Sedang pihak Lapas seharusnya juga perlu mengevaluasi program yang ditujukan kepada warga binaan, mengapa mereka tidak kapok setelah dibina. (Hudono)

Read previous post:
Kartun Jurukunci, Sabtu (18/4/2020)

Close