Penipuan Penerimaan Polisi

ilustrasi
ilustrasi

HARI gini masih ada orang tertipu penerimaan anggota polisi. Berjanji bisa memasukkan seseorang menjadi anggota kepolisian, lantaran mengaku kenal dengan petinggi Polri, Din (43) warga Kota Tegal dan Iw (40), warga Medan Sumatera Utara dibekuk jajaran Polres Tegal. Mereka berhasil memperdaya Hasan (56), warga Kabupaten Tegal sehingga menyerahkan uang Rp 150 juta agar anaknya diterima menjadi polisi. Namun begitu uang diserahkan, janji Din dan Iw hanya omong kosong.

Kalau dicermati, modus yang dilancarkan kedua pelaku tergolong usang dan sangat konvensional. Artinya, banyak orang sudah tidak percaya dengan janji-janji seperti itu. Apalagi langsung meminta uang sebanyak itu. Boleh jadi, Hasan sangat ingin agar anaknya diterima menjadi polisi, sehingga ia tidak waspada ada orang yang memanfaatkan kesempatan itu untuk menipu.

Keinginan yang berlebihan terkadang membuat orang tidak waspada, seperti dialami Hasan. Ia percaya begitu saja kepada pelaku yang mengaku kenal dengan petinggi Polri dan bisa memasukkan anaknya menjadi polisi. Padahal, penerimaan anggota kepolisian saat ini sangat ketat, bahkan antarpeserta bisa saling mengontrol lantaran nilai hasil tes ditampilkan secara terbuka.

Sehingga, bila ada permainan di balik penerimaan anggota kepolisiaan, sangat mudah dilacak. Tapi, entahlah, Hasan tidak memperhatikan soal bagaimana mekanisme rekrutmen kepolisian, sehingga begitu ada orang yang menawari bisa memasukkan anaknya sebagai polisi, langsung disanggupi membayar Rp 150 juta.

Ada modus yang lebih halus lagi, yakni pelaku tidak langsung meminta uang dalam jumlah besar melainkan sedikit demi sedikit dengan dalih untuk biaya administrasi. Bahkan, jauh lebih halus lagi, pelaku mengatakan pembayaran dilakukan setelah anaknya diterima di kepolisian. Bila tidak diterima, maka tidak membayar.

Cara yang terakhir ini hanya akal-akalan belaka karena pelaku hanya pasif tidak melakukan upaya apapun. Pelaku hanya menunggu, bila anak tersebut memang diterima, maka ia akan minta uang kepada orangtuanya. Sebaliknya bila tidak diterima, pelaku hanya diam. Artinya, pelaku hanya untung-untungan.

Seiring era transparansi dalam penerimaan pegawai, termasuk jajaran kepolisian, praktik-praktik curang relatif sudah sulit ditemui. Kalau memang ingin diterima di institusi manapun, maka harus berjuang dengan cara belajar yang tekun, disiplin dan berdoa, bukan dengan menyuap atau cara lain yang melanggar hukum. (Hudono)

Read previous post:
Alsintan Membuat Panen di Kutai Timur Lebih Efisien

Close