Selingkuh dengan Tetangga

ilustrasi
ilustrasi

TERKADANG kita sulit memahami mengapa ada seorang ibu yang tega menghabisi nyawa anaknya sendiri. Hanya gara-gara malu kepada tetangga atau orang lain, seorang ibu di Temanggung tega menghabisi bayinya yang baru dilahirkan. Usut punya usut, bayi perempuan tersebut merupakan hasil hubungan gelap dengan orang lain yang tak lain adalah tetangganya sendiri.

Ibu yang tak mengenal perikemanusiaan itu adalah HT (25), warga Desa Getas Kaloran Kabupaten Temanggung. Begitu melahirkan bayi perempuan di rumah yang ditinggali bersama ibu mertuanya itu, HT langsung membekapnya hingga tak terdengar lagi suara tangisan. Selanjutnya bayi disembunyikan di balik pintu. Namun, akhirnya ketahuan juga dan kasusnya sampai ke polisi.

Rasanya janggal bila ibu mertua tidak mengetahui kehamilan menantunya itu, apalagi mereka tinggal serumah. Sementara suami HT bekerja di Malaysia. Mestinya muncul pertanyaan, siapa yang menghamili HT ? Agaknya HT menyadari pada akhirnya aksinya akan ketahuan, sehingga ia memutuskan menghabisi bayinya usai dilahirkan.

Anehnya, ia mendatangi bidan setempat untuk mengeluarkan plasenta yang tertinggal di kandungannya. Dari situlah terungkap bahwa HT sudah melahirkan bayi, dan terbongkar pula ia telah menghabisi nyawanya. Kini ia harus meringkuk di sel penjara guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Ketika diinterogasi HT mengaku malu melahirkan bayi hasil perselingkuhan, sementara laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab. Pertanyaannya, kalau laki-laki tetangganya itu mau bertanggung jawab, lantas bagaimana bentuk pertanggungjawabannya ? Apakah tetangganya itu harus menikahi HT ? Tentu tidak segampang itu, mengingat HT masih terikat perkawinan dengan orang lain.

Kalaupun tetangganya harus menikahi, maka HT harus bercerai dulu dengan suaminya, baru setelah itu bisa melangsungkan perkawinan. Dalam praktiknya, perselingkuhan atau perzinaan menjadi alasan kuat bagi suami-istri untuk memutus perkawinan.

Bagaimana seandainya suami HT tak mau bercerai ? Maka harus meminta pengadilan untuk memutuskannya. Cara demikian tentu lebih baik ketimbang HT membunuh bayinya yang tidak bersalah sama sekali. HT telah merampas hak hidup bayinya, sehingga yang bersangkutan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. HT selain dijerat KUHP khususnya tentang pembunuhan terhadap bayi yang baru dilahirkan atas dasar rasa malu, jug dijerat UU Perlindungan Anak, karena telah merampas nyawa bayi yang seharusnya dirawatnya. (Hudono)

Read previous post:
MERAPI-ISTIMEWA Perempuan warga Purwosari tak ketinggalan membantu TMMD Kodim Kulonprogo
Prajurit dan Warga Bersatu Corblok Jalan

Close