Kejahatan Menimbun BBM

ilustrasi
ilustrasi

 

DI tengah masyarakat masih perang melawan wabah corona atau Covid-19, masih ada pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Baru-baru ini jajaran Polres Kulonprogo membongkar kasus penimbunan dan penyalahgunaan BBM bersubsidi yang dilakukan DSY (30), warga Pengasih Kulonprogo. Dalam aksinya, DSY membeli premium berulang kali menggunakan mobil modifikasi. Setidaknya, selama dua bulan beraksi, pelaku berhasil mengumpulkan 2.000 liter premium. Selanjutnya premium itu dijual dengan label pertamax dan pertalite.

Namun, menurut pengakuan pelaku, meski labelnya pertamax, pelaku tetap menjualnya sesuai harga pasaran premium eceran. Atas perbuatannya itu, DSY dijerat Pasal 55 UU No 2 Tahun 2001 tentang Penyalahgunaan Pengangkutan atau Niaga Bahan Bakar Minyak dengan ancaman pidana maksimal 6 tahun penjara.

Bisa saja yang disampaikan DSY benar, ia tidak menjual premium seharga pertamax maupun pertalite lantaran konsumen mudah membedakan ketiga jenis BBM tersebut. Namun demikian, yang bersangkutan sulit berkelit dari tuduhan penimbunan BBM. Dalam situasi ekonomi sulit seperti sekarang, acap ada orang yang memanfaatkan situasi dengan cara menimbun barang kebutuhan pokok, termasuk BBM.

Aksi DSY nyaris tak ketahuan bila petugas SPBU tidak curiga. Pasalnya, sehabis mengantre BBM, DSY mengantre lagi, begitu seterusnya sehingga menimbulkan kecurigaan. Padahal, sekali mengantre premium ia bisa mendapatkan 200 liter untuk mobilnya yang telah dimodifikasi. Dari tangki mobil yang telah dimodifikasi ini kemudian dialirkan ke pompa bensin elektrik yang telah dirakitnya. Barang-barang tersebut pun telah disita petugas.

Saat diinterogasi petugas, DSY mengaku bisa mengantongi keuntungan Rp 6 juta selama dua bulan beraksi. Namun, kini ia tak bisa lagi berkutik, bahkan mobil yang ia gunakan untuk antre BBM pun disita petugas. Itulah risiko bila seseorang melakukan pelanggaran hukum. Selama belum ada putusan hukum, maka barang-barang yang ia gunakan untuk melakukan kejahatan disita. Selanjutnya, menunggu putusan hakim, mau diapakan barang-barang tersebut, apakah akan dikembalikan kepada yang punya, dimusnahkan atau disita untuk negara.

Boleh jadi, pelaku akan habis-habisan, barangnya disita, masih harus menjalani hukuman penjara. Meski begitu, hakim tentu akan mempertimbangkan aspek yang meringankan, misalnya, bila terdakwa sungguh-sungguh tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya melanggar hukum, tentu akan dipertimbangkan untuk meringankan hukuman. (Hudono)

Read previous post:
ilustrasi
Edarkan Obat Daftar G, Buruh Diadili

Close