Ramai-ramai Lockdown

ilustrasi
ilustrasi

 

LOCKDOWN kini menjadi kosa kata yang sangat populer di masyarakat, seiring mewabahnya virus corona atau Covid-19. Entah paham atau tidak artinya, yang jelas, masyarakat tahu bahwa lockdown berarti menutup akses dari segala penjuru. Dalam konteks lockdown di kampung yang kini sedang marak, lebih diartikan sebagai tertutupnya akses bagi pendatang atau orang asing untuk masuk ke kampung.

Hal yang menarik, fenomena lockdown ini merata di kampung-kampung DIY. Mereka mengambil kebijakan sendiri untuk menutup kampungnya dari pendatang manapun. Mengapa ini terjadi ? Karena mereka khawatir para pendatang ini membawa virus mematikan yang kemudian menularkan ke warga lain.

Cara seperti ini (lockdown) juga dianggap efektif untuk menangkal virus corona. Bahkan, ada yang beranggapan ini adalah bentuk local wisdom atau kebijakan lokal yang didasarkan atas kesepakatan warga setempat. Tapi, benarkah ini cara efektif menangkal virus corona ? Kiranya masih perlu dikaji lagi. Sebab, yang lebih penting adalah kesadaran masing-masing individu untuk melawan virus mematikan itu, untuk kemudian bahu-membahu dan saling mengawasi agar jangan sampai wabah tersebut menyerang mereka.

Kita mungkin bisa memahami respons masyarakat yang melakukan lockdown. Mengapa ? Karena sejauh ini tidak ada jaminan dari pemerintah maupun pemangku kepentingan bahwa mereka akan aman. Terlebih, belakangan ini pemudik membanjiri DIY, terutama di Gunungkidul. Di antara pemudik ini ada yang berasal dari zona merah seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat, sehingga dikhawatirkan akan menulari warga lainnya.

Harus kita akui, pengawasan terhadap pemudik yang pulang kampung di DIY masih lemah. Sebelum masuk DIY mereka memang sudah discreening, baik menyangkut gejala awal maupun suhu badan. Namun tentu hal itu belum lengkap karena tidak bisa mendeteksi virus, melainkan hanya gejalanya saja.

Selanjutnya, pemudik ini dianjurkan untuk karantina mandiri di rumahnya selama 14 hari, atau masa inkubasi virus. Lantas, siapa yang mengawasi karantina mandiri ? Siapa yang menjamin mereka tidak keluar rumah ? Mungkinkah mereka tidak berinteraksi secara fisik dengan anggota keluarganya ?

Inilah perlunya kepedulian terhadap sesama. Warga bisa mengingatkan atau mengawasi para pemudik di kampung halaman masing-masing. Pengurus RT dan RW tidak cukup hanya mendata mereka, melainkan juga mengawasi agar mereka tetap dalam karantina. (Hudono)

Read previous post:
DALAM MASSA TANGGAP DARURAT COVID-19- Pelimpahan Perkara Penganiayaan Ditunda

Close