Pelajar Jadi Begal


ilustrasi
ilustrasi

JUDUL di atas mungkin terasa ekstrem. Namun, itulah faktanya, dua pelajar di Sleman nekat membegal HP milik pelajar lain di bulak Dusun Kesungbanteng, Sumberagung, Moyudan Sleman. Mereka adalah DP (19), warga Seyegan dan FY (16), warga Godean. Modusnya, mereka menuduh korban sebagai klitih dan langsung menyita HP korban. Korban hanya pasrah karena pelaku mengaku sebagai polisi. Bahkan, pelaku mengancam dengan mengeluarkan pistol mainan.

Dilihat umurnya, meski berstatus pelajar, DP bukan lagi dikategorikan sebagai anak-anak, sehingga ancaman hukumannya sama dengan orang dewasa. Berbeda dengan FY yang masih kategori anak, sehingga diterapkan UU Sistem Peradilan Pidana Anak. DP sebenarnya masih dalam pengawasan Bapas karena kasus kepemilikan senjata tajam tahun 2016. Saat itu DP masih tergolong anak-anak.

Dari peristiwa tersebut, seolah pembinaan dan pengawasan Bapas tidak ngefek. Terbukti, DP bukannya insyaf, tapi malah melakukan kejahatan lainnya, yakni membegal pelajar lain. Apa yang dilakukan DP kiranya sudah bukan lagi masuk kenakalan remaja biasa. Bila dibiarkan, dikhawatirkan yang bersangkutan makin lihai melakukan kejahatan.

Tentu peristiwa ini menjadi bahan evaluasi bagi Bapas untuk memikirkan bagaimana mekanisme pembinaan yang efektif agar anak insyaf, tidak mengulangi perbuatannya, bukannya malah tambah parah dengan melakukan kejahatan seperti dilakukan orang dewasa.

Pertanyaannya, di mana orangtua mereka ? Tentu perbuatan mereka tak lepas dari sejauh mana pengawasan orangtua. Bila mereka dibiarkan berkeliaran di jalan, maka itulah hasil yang diperoleh. Anak menjadi begal. Entahlah, adakah orangtua yang mencita-citakan anaknya menjadi begal atau perampok ? Orangtua yang waras tentu tidak akan punya pikiran demikian.

Kasus pelajar yang menjadi begal tentu tidak bisa digeneralisasi atau digebyah uyah. Itu hanya dilakukan oknum atau segelintir pelajar. Seperti halnya perilaku klitih, tidak semua pelajar berbuat klitih. Tapi, bila pengawasan orangtua dan sekolah kendur, maka mereka bisa saja terjerumus dalam tindak kejahatan yang biasa dilakukan orang dewasa. (Hudono)

Read previous post:
Maret Penyaluran Pupuk Subsidi Mencapai 1,9 Juta Ton

JAKARTA (HARIAN MERAPI) - Penyaluran pupuk subsidi hingga saat ini baru mencapai 1.98 juta ton atau 24,67% dari alokasi setahun

Close