Darurat Corona


PASIEN positif corona atau Covid-19 terus bertambah. Bahkan angkanya sudah 300 orang lebih. Itu yang terpantau di lapangan dan menjalani tes corona. Bagaimana yang tidak terpantau ? Inilah yang paling membahayakan. Sebab, bisa saja orang yang secara klinis tidak mengalami gejala sakit, namun sebenarnya sudah terpapar virus mematikan ini. Meski orang yang bersangkutan tidak mengalami sakit karena daya tahan atau imun tubuhnya sangat bagus, namun ia potensial menularkan kepada orang lain.

Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah menyatakan kondisi darurat corona meski tidak secara ekplisit. Sedang untuk wilayah DIY, meski sudah ada pasien positif Covid-19, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X tidak menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Sebab, menurut pertimbangan Sultan, kondisi di DIY masih bisa terkendali. Meski demikian, masyarakat diimbau tetap waspada dan selalu membiasakan hidup bersih dan sehat.

Persoalan wabah ini kini telah ditangani Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dengan demikian dapat disimbulkan kondisinya sudah darurat. Bahkan BNPB memperkirakan masa darurat ini diperpanjang, seiring banyaknya korban yang terpapar virus corona, paling tidak hingga Idul Fitri mendatang.

Yang kita khawatirkan, ketika Indonesia menerapkan ‘lockdown’, yakni kondisi negara yang terkunci dari arah manapun atau terisolasi, tidak bisa masuk maupun keluar. Gerak pun akan dibatasi, orang tidak bisa lagi leluasa keluar rumah. Semua aktivitas dijalankan di dalam rumah. Negara yang sudah menerapkan ‘lockdown’ antara lain Italia dan Malaysia. Kebijakan ini mungkin akan efektif selagi persediaan makanan atau kebutuhan pokok tercukupi. Bila tidak, akan menimbulkan persoalan baru, yakni kelaparan yang tidak kalah bahayanya dengan virus corona.

Di negara yang telah menerapkan ‘lockdown’ semua harus tunduk pada perintah negara. Mereka yang melanggar, misalnya ke luar rumah bahkan bisa ditembak karena tidak mengindahkan perintah. Untuk itulah di negara yang menerapkan kebijakan ini tak ubahnya seperti kota mati, karena tidak ada aktivitas penduduk di luar rumah.

Sulit membayangkan wajah Indonesia bila pemerintah menerapkan kebijakan ini. Mumpung belum terlambat upaya pencegahan harus terus dilakukan, misalnya tidak menggelar acara yang melibatkan massa dalam jumlah besar, pertemuan-pertemuan di luar rumah, dan lebih penting lagi, menjaga jarak dengan warga lain ketika berinteraksi serta selalu mencuci tangan dengan sabun atau disinfektan. (Hudono)

Read previous post:
MEMBELI SECARA PATUNGAN- 2 Pengedar Pil Yarindo Divonis 6 Bulan

YOGYA (MERAPI) - Dua pengedar obat keras berupa pil Yarindo, Ganesha (28) dan Deny Setiyawan (30) masing-masing divonis 6 bulan

Close