Penggundulan Tersangka


ilustrasi
ilustrasi

TRAGEDI susur Sungai Sempor di Dusun Dukuh Donokerto Turi Sleman masih menjadi perbincangan hangat masyarakat. Cerita mistis pun menyertai tragedi yang menewaskan 10 siswi SMPN 1 Turi itu. Bahkan, menurut cerita warga, sehari setelah kejadian, ada tiga driver ojek online yang menerima order dari orang yang namanya mirip salah satu korban. Anehnya lagi, titik order berasal dari Sungai Sempor tempat siswa mengalami kecelakaan.

Terlepas cerita di balik itu semua, yang jelas polisi terus mengembangkan penyidikan tragedi susur Sungai Sempor. Tersangka pun terus bertambah dari kalangan guru SMPN1 Turi. Masalah yang kini ramai di medsos adalah tindakan polisi yang menggunduli tiga pembina Pramuka yang merupakan guru SMPN1 Turi. Mereka pun diperlihatkan di depan publik dan foto gundulnya mudah diakses oleh siapapun.

Tak sedikit protes mengalir atas tindakan tersebut. Tak sedikit netizen yang menyayangkan mengapa para guru ini harus digunduli seperti halnya pencuri atau perampok yang ketangkap ? Sampai sejauh ini memang belum jelas aturan mainnya, mana yang harus digunduli dan mana yang tidak. Namun, kalau kita cermati, selama ini penggundulan hanya dilakukan terhadap tersangka yang melakukan kejahatan seperti mencuri, merampok, menganiaya, memperkosa dan sebagainya.

Bahkan, tersangka korupsi sekalipun tak pernah digunduli. Karena itu wajar bila kemudian muncul pertanyaan, mengapa ketiga guru pembina Pramuka itu digunduli ? Apalagi, foto gundul mereka mudah diakses siapa saja. Bukankah tindakan penggundulan itu justru membuat keluarganya malu ? Lantas apa relevansi penggundulan dengan perkara itu sendiri ?

Itulah beberapa pertanyaan yang sering muncul di medsos. Berkaitan tindakan penggundulan terhadap ketiga pembina Pramuka ini, mungkin tepat bila kita mengutip pepatah Jawa: ngono ya ngono ning aja ngono. Mereka memang bersalah dan telah mengakui kesalahannya serta meminta maaf, namun tidak kemudian diperlakukan semena-mena dengan mempermalukannya di depan umum. Apalagi mereka adalah guru yang tetap wajib dihormati.

Mereka hanya lalai hingga berakibat fatal nyawa orang lain melayang sehingga dijerat Pasal 359 KUHP. Kelalaian ini tidaklah disengaja, atau tidak ada maksud sama sekali untuk mencelakai siswa-siswinya. Atas dasar itu, perlakuan terhadap tersangka hendaknya manusiawi. (Hudono)

Read previous post:
PERSIAPAN PON XX-2020 PAPUA – Voli Pasir DIY Siapkan 6 Pasangan Atlet

YOGYA (HARIAN MERAPI) - Tim voli pasir DIY menyiapkan 6 pasangan atlet untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XX-2020 yang

Close