Bukan Salah Alam


ilustrasi
ilustrasi

BILA terjadi bencana yang berkaitan dengan alam seperti banjir maupun tanah longsor, sering alam disalahkan. Seolah-olah peristiwa tersebut tidak ada kaitan dengan perilaku manusia. Padahal, sebagian besar kejadian banjir maupun tanah longsor disebabkan oleh ulah manusia yang membuang sampah sembarangan, menggunduli hutan dan merusak air tanah. Selanjutnya, ketika terjadi bencana yang mengakibatkan nyawa melayang, tidak ada yang dibawa ke pengadilan lantaran alam-lah yang disalahkan.

Bagaimana dengan peristiwa susur Sungai Sempor di Kecamatan Turi Sleman yang berujung 10 nyawa melayang ? Akankah hujan dan banjir yang disalahkan ? Tentu tak bisa demikian, karena hujan dan banjir adalah peristiwa yang sudah bisa diprediksi dengan alat dan ilmu pengetahuan. Manusia hanyalah berusaha mengantisipasi agar banjir tersebut tidak membawa korban.

Namun ironi terjadi ketika panitia Susur Sungai Sempor SMPN 1 Turi menyelenggarakan aktivitas yang membahayakan itu justru di saat cuaca tidak menguntungkan. Lebih-lebih, kegiatan tersebut tidak berkoordinasi dengan pihak pengelola wisata kawasan Sungai Sempor. Panitia mungkin terlalu percaya diri, sehingga mengabaikan informasi cuaca dari BMKG. Bahkan warga di sekitar sungai juga sudah mengingatkan adanya ancaman bahaya karena ada banjir dari atas, namun lagi-lagi panitia tak mau mengindahkan dan kegiatan susur sungai jalan terus.

Apa yang terjadi kemudian ? Ratusan siswa hanyut saat susur sungai dan 10 siswi ditemukan meninggal. Akankah panitia menyalahkan alam ? Polda DIY yang menangani kasus tersebut langsung melakukan penyelidikan menyeluruh dan menetapkan seorang pembina Pramuka yang juga guru olahraga di SMPN 1 Turi sebagai tersangka. Lebih naif lagi, sang pembina meninggalkan tempat ketika kegiatan baru dimulai, dengan alasan ada suatu keperluan, sampai akhirnya ada siswa menelepon mengabarkan ada peserta susur sungai yang hanyut.

Sungguh ini tragedi yang memilukan di tahun 2020. Sesungguhnya ini bukanlah musibah yang tak bisa diprediksi. Peristiwa ini adalah kecerobohan panitia yang nekat menyelenggarakan susur sungai di tengah bahaya yang sudah nyata-nyata mengancam. Sudah begitu, peserta tidak dilengkapi pengaman atau alamat keselamatan yang memadai. Mereka hanya dibekali tongkal tanpa tali. Atas dasar itulah tepat bila pembina Pramuka yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut dijerat dengan Pasal 359 KUHP dan 360 KUHP tentang kelalaian yang mengakibatkan nyawa orang lain melayang dan luka-luka. (Hudono)

Read previous post:
Ancam Teman dengan Sajam Divonis 9 Bulan

BANTUL (MERAPI) - Terdakwa Sigit Wibowo (41) warga Piyungan Bantul akhirnya divonis 9 bulan penjara potong masa tahanan dalam sidang

Close