Klitih Cari Perhatian


ilustrasi
ilustrasi

AKSI klitih di Yogya belum juga mereda, bahkan kecenderungannya meningkat. Polisi pun telah menggencarkan razia terhadap cah klitih. Di sisi lain, masyarakat juga membantu kepolisian memberantas klitih. Hanya saja, diingatkan agar masyarakat tidak main hakim sendiri. Bila menemukan cah klitih hendaknya diserahkan kepada kepolisian untuk diproses hukum.

Beberapa hari lalu Polres Sleman mengamankan 11 remaja yang terlibat kejahatan jalanan. Dua di antaranya menjadi eksekutor dalam aksi pembacokan terhadap seorang mahasiswa AM (19) di Kasongan Bantul. Korban yang kena bacokan di tangan kirinya berusaha mengejar tersangka hingga ke wilayah Sleman. Kebetulan polisi yang sedang patroli di Sleman melihat kecurigaan remaja yang ngebut naik motor dan menerabas lampu merah. Setelah tertangkap mereka pun tak bisa berkilah kemudian menunjukkan teman-temannya yang tergabung dalam geng Maarif Garis Keras (MGK).

Polisi berhasil menyita senjata tajam clurit dan pedang. Ceritanya, mereka hendak melakukan balas dendam lantaran salah seorang anggota gengnya menjadi korban kekerasan. Tapi, menurut mereka, aksi mereka salah sasaran hingga melukai mahasiswa AM. Boleh jadi itu hanya dalih mereka. Sebab, dalam banyak kasus cah klitih menyasar sembarang orang dan kalau tertangkap akan bilang salah sasaran. Salah sasaran namun disengaja. Inilah sebenarnya esensi klitih, yakni menganiaya orang tanpa alasan jelas.

Untung polisi sigap meringkus RS (20), warga Ngestiharjo Kasihan Bantul yang juga sebagai pimpinan geng serta MBL alias Mayik (17), warga Karangjati Bangunjiwa Kasihan Bantul. Keduanya menjadi eksekutor dalam pembacokan terhadap AM. Polisi diharapkan memproses hukum dua orang tersebut karena nyata-nyata melakukan tindak pidana penganiayaan sebagaimana diatur Pasal 351 KUHP. RS bakal diproses hukum dengan acara biasa, sedang Mayik yang masih tergolong di bawah umur diproses berdasar UU Peradilan Anak dan Perlindungan Anak.

Tak kalah penting adalah membubarkan geng yang mereka bentuk. Sebab, pengaruh geng sangat luar biasa karena akan terus merekrut anggota baru. Apalagi, anggotanya mayoritas adalah pelajar. Mereka bergabung dengan geng untuk eksistensi diri dan butuh perhatian dari orang lain. Bila geng masih eksis, polisi harus mengambil tindakan tegas dengan mengamankan seluruh anggotanya. Dalam hal ini sekolah juga tak boleh tutup mata. Sekolah harus memberi sanksi tegas kedapa siswa yang bergabung dalam geng. (Hudono)

Read previous post:
Wakil Ketua Umum DPP Ferari, Bambang Sri Pujo Sakti (dua dari kiri) saat memberikan kenangan-kenangan kepada Suripto, Ketua Pengadilan Tinggi Yogya usai penyumpahan. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)
KPT Yogya Apresiasi Pengurus Advokat Ferari

YOGYA (MERAPI) - Ketua Pengadilan Tinggi (KPT) Yogyakarta, H Suripto SH MH mengapresiasi pengurus DPD Federasi Advokat Republik Indonesia (Ferari)

Close