Janda Terkecoh


ilustrasi
ilustrasi

WAHAI para janda, berhati-hatilah ketika ada orang yang tiba-tiba menawarkan jasa baik hendak menjodohkan dengan seorang pria mapan. Sebab, boleh jadi, itu hanyalah tipuan untuk mengeruk keuntungan. Itulah yang dilakukan SW (54), ibu rumah tangga asal Playen Gunungkidul. Berlagak mencari kontrakan, SW memperdaya Sugiyati (48), warga Serut Prambanan, yang berstatus janda. SW ingin memperkenalkan Sugiyati dengan seorang pensiunan polisi.


Cerdiknya, SW memperkenalkan hanya dengan melalui nomor HP dan hanya bisa dihubungi lewat SMS. Ternyata pria yang diakui sebagai pensiunan polisi ini adalah dirinya sendiri. Dalam perbincangan via SMS, SW yang mengaku sebagai pensiunan polisi kemudian meminjam uang kepada Sugiyati dengan dalih untuk pengobatan anaknya. Total uang yang diserahkan kepada SW mencapai Rp 57 juta. Anehnya, Sugiyati percaya begitu saja pada komunikasi SMS yang ternyata dimainkan SW. Bahkan korban sudah jatuh hati kepada orang tersebut, yang ternyata si penipu.


Untungnya aksi tipu-tipuan ini berhasil dibongkar setelah korban melapor ke polisi lantaran pelaku sudah sulit dihubungi. Alhasil, SW ditangkap dan mengaku terus terang telah menipu Sugiyati hingga Rp 57 juta. Lantas di mana uang sebanyak itu ? Menurut pengakuannya telah habis dibelanjakan, termasuk untuk membayar utang.


Proses hukum pidana terhadap SW tentu akan jalan terus, namun tidak menjamin uang Sugiyati kembali. SW mungkin akan dijatuhi pidana penjara karena tindakannya memenuhi unsur Pasal 378 KUHP, namun tak serta merta uang milik korban kembali. Apalagi kalau memang benar pengakuan SW bahwa uang tersebut telah habis dibelanjakan. Sugiyati hanya bisa melihat orang yang menipunya dihukum penjara, namun tidak sertamerta uangnya kembali.


Itulah sifat dari hukum pidana yang lebih menekankan pada punishment atau penghukuman terhadap pelaku, bukan pada bagaimana memulihkan kondisi korbannya. Kalau memang SW sudah tidak memegang uang, bagaimana mungkin akan mengembalikannya kepada korban ? Kalaupun harta kekayaannya masih ada, misalnya rumah atau tanah, pun tak otomatis bisa disita untuk membayar kerugian kepada Sugiyati. Bila cara ini yang hendak ditempuh maka korban harus mengajukan gugatan secara perdata dan meminta agar harta kekayaan SW disita untuk mengganti kerugian korban. (Hudono)

Read previous post:
DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL- Polda DIY Bongkar Peredaran Gula Rafinasi

DEPOK (MERAPI)- Ditreskrimsus Polda DIY berhasil mengungkap kasus peredaran Gula Kristal Rafinasi (GKR) yang disalahgunakan untuk dijual ke masyarakat sebagai

Close