Bukan Kenakalan Biasa


ilustrasi
ilustrasi

MEMBINCANGKAN soal kenakalan remaja di Yogya seolah tak ada habisnya. Ada saja oknum remaja, khususnya pelajar, yang berulah neko-neko, mulai dari terkibat klitih hingga narkoba. Seperti yang dilakukan seorang oknum pelajar berinisial TP (16), warga Depok Sleman, sungguh kelewatan. Di saat masih menjalani pembebasan bersyarat, TP justru terlibat narkoba bersama teman-temannya. Ia terjaring razia bersama 14 orang lainnya dalam rangkaian operasi yang digelar jajaran Polda DIY dua pekan ini.

Padahal, sebelumnya TP telah dihukum bersalah dan divonis 4 tahun penjara karena terlibat klitih yang mengakibatkan korban tewas. Ternyata hukuman tersebut tak membuatnya jera, malahan dia terlibat kasus narkoba. Meski kategori di bawah umur, TP tetap harus menjalani persidangan terkait kasus narkoba. Artinya, kepolisian tak boleh melakukan diversi karena ada pengulangan tindak pidana yang dilakukan TP.

Tindakan TP sudah bukan lagi kategori kenakalan remaja biasa, apalagi mengakibatkan nyawa orang lain melayang. Jadi, sudah selayaknya bila yang bersangkutan tetap diproses pidana biasa, meski pidana yang dijatuhkan maksimal separoh dari ancaman pidana orang dewasa. Hal yang layak dipikirkan, terutama bagi para pengambil kebijakan, bagaimana agar anak yang pernah melakukan tindak pidana jera.

Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Remaja (BPRSR) yang ada di Yogya nampaknya juga belum maksimal menjalankan fungsinya. Tidak sedikit anak-anak yang menjalani rehabilitasi namun kambuh setelah berada di luar. Jika demikian, pendidikan di rumah mestinya paling efektif. Tentu ini harus melibatkan peran orangtua. Orangtua yang sibuk biasanya menyerahkan kepada sekolah atau lembaga pendidikan untuk mendidik anaknya. Dikiranya hanya dengan membayar sejumlah uang lantas anaknya akan menjadi orang baik.

Anggapan tersebut tentu sangat keliru. Orangtua seharusnya menjadi garda terdepan dalam mendidik anak, terutama mengajarkan pendidikan akhlak dan budi pekerti. Dalam kasus kriminal yang melibatkan anak-anak, biasanya mereka berasal dari keluarga ‘broken home’, misalnya orangtuanya bercerai dan sebagainya.

Meski orangtua bercerai, mereka tetap harus menjalankan kewajiban mendidik dan membiayai anak hingga dewasa. Sering kita mendengar ungkapan: ada bekas suami/istri, tapi tidak ada bekas anak. Ini menunjukkan bahwa tanggung jawab orangtua tidak lantas berhenti meski mereka telah bercerai. (Hudono)

Read previous post:
BERAKSI SAAT PENGHUNI MANDI- Curi 3 HP di Kos, Divonis 10 Bulan

BANTUL (MERAPI) - Seorang wanita pencuri, Erni Rahmawati (36) akhirnya divonis 10 bulan penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN)

Close