Nenek Pengutil Mangga

ilustrasi
ilustrasi


SEORANG nenek yang mengutil mangga di Pasar Gendeng Prambanan, kemudian dianiaya seorang pria, viral di media sosial. Banyak pihak menyayangkan kejadian tersebut, karena tindakan pria yang kemudian teridentifikasi bernama Dirin, tidak sebanding dengan yang dilakukan nenek yang belakangan diketahui bernama Rubingah (60).


Meski kasus ini telah diselesaikan secara musyawarah kekeluargaan, namun karena peristiwanya menjadi viral, polisi pun turun tangan dan menyelidiki kasus tersebut dengan memeriksa beberapa saksi. Soal apakah kasusnya akan dilanjutkan dengan penyidikan atau dihentikan, tentu tergantung pemeriksaan nanti. Apalagi, keberadaan Rubingah sejauh ini belum diketahui.


Lantas siapa yang memviralkan peristiwa penendangan terhadap Rubingah ? Lagi-lagi polisi belum berhasil mengungkapnya. Kalau kita cermati, kasus penganiayaan terhadap Rubingah bukan sekadar kasus hukum tapi juga sosial. Banyak pertanyaan kritis bisa diajukan, misalnya mengapaRubingah sampai mengutil mangga ? Padahal, menurut pengakuan si penjual mangga, bila Rubingah minta baik-baik pasti akan diberi, artinya tidak perlu mengutil. Tapi perkataan itu muncul setelah kejadian, artinya belum bisa dibuktikan. Benarkah bila sang nenek minta mangga kepada penjual pasti akan diberi ? Belum tentu juga.


Mengutil atau mencuri tetap merupakan tindak pidana dengan ancaman hukuman seperti diatur Pasal 362 KUHP. Namun karena barang yang dicuri nilai ekonominya sangat kecil, tentu ada kelonggaran dalam penegakan hukum atau sering dikategorikan sebagai pencurian ringan. Pelaku bisa dibebaskan dengan janji tidak mengulangi perbuatannya. Lain halnya dengan orang yang menganiaya, dengan cara menendang pelaku pencurian ringan, justru dapat dijerat pasal penganiayaan (351) KUHP. Pencuri sekalipun berhak mendapat perlindungan dari tindak kesewenang-wenangan.


Polisi sedang mencari orang yang memviralkan kejadian penganiaayaan tersebut. Apa salahnya orang memviralkan peristiwa penendangan terhadap pengutil ? Secara etika kejadian tersebut tidak layak untuk disebarluaskan. Sedang secara hukum, orang yang merekam peristiwa penendangan terhadap Rubingah mestinya melakukan pencegahan, bukan membiarkan dan malah merekamnya. Orang yang melihat peristiwa pidana di depan matanya, namun tidak berusaha mencegahnya tanpa alasan yang sah, bisa diseret-seret ke dalam peristiwa pidana tersebut.


Tentu ini bukan berarti membenarkan tindakan Rubingah mengutil, melainkan tak kalah penting adalah mencari jawab, mengapa ia mengutil ? Boleh jadi ia adalah warga miskin yang selama ini tak pernah mendapatkan haknya seperti warga lainnya. (Hudono)

Read previous post:
Empat Aspek Jadi Fokus Kebijakan Kementan dalam Rakornas Pembangunan Pertanian 2020

JAKARTA (HARIAN MERAPI)- Kementerian Pertanian (Kementan) mengeluarkan kebijakan dalam pembangunan pertanian 2020 untuk mewujudkan pertanian yang maju, mandiri dan modern.

Close