Investasi Abal-abal


ilustrasi
ilustrasi

MEMASUKI tahun 2020, modus penipuan investasi bodong atau abal-abal ternyata masih laku. Seperti yang terjadi di Sleman baru-baru ini, investasi berkedok pengadaan sembako untuk kebutuhan hotel berbintang di Yogya, berhasil dibongkar jajaran Polsek Depok Timur. Pelakunya pasangan suami-istri MW (43) dan IF (41) berhasil mengeruk uang dari para korbannya hingga Rp 64 miliar.

Ironisnya, korbannya adalah kalangan pengusaha, dokter, intelektual hingga profesor. Mereka tanpa ragu menyetor uang hingga ratusan juta rupiah, bahkan ada yang Rp 1 miliar lebih karena dijanjikan bagi hasil antara 50 hingga 55 persen. Apalagi, pelaku selalu menyampaikan dalil agama, sehingga korban merasa mantap untuk menanamkan investasinya.

Andai para korban punya wawasan luas tentang seluk beluk investasi, mungkin mereka takkan tertipu, atau paling tidak mengecek investasi yang ditawarkan MW dan IF. Atau, bisa saja karena kelihaian pelaku dalam menawarkan keuntungan yang menggiurkan, sehingga membuat calon korbannya tertarik dan tanpa pikir panjang langsung menanamkan investasi.

Seperti kasus investasi bodong lainnya, awalnya pelaku tertib membayar keuntungan yang dijanjikan kepada para ‘nasabahnya.’ Namun, lama kelamaan, pembayaran mulai seret hingga akhirnya pelaku sulit dihubungi. Ternyata benar adanya, ketika tagihan pembayaran sudah menumpuk, pelaku menghilang dan tak diketahui keberadaannya. Barulah para ‘nasabah’ tersadar telah menjadi korban penipuan MW dan IF.

Modus ini mungkin menggunakan metode MLM yang pembayarannya diambilkan dari peserta yang baru masuk, begitu seterusnya, sehingga terkesan meyakinkan. Tapi mana ada perusahaan memberikan keuntungan 50 hingga 55 persen perbulan dari modal yang disetor. Perbankan saja tidak ada yang berani memberi bunga sebesar itu. Sayangnya, praktik penggalangan dana investasi yang dilakukan pasutri ini tidak terendus Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Atau, jangan-jangan terjadi pembiaran sehingga masyarakat dirugikan.

Investasi bodong seharusnya sudah tidak terjadi lagi di DIY, karena kasusnya sudah sering terjadi. Dengan munculnya kasus tersebut menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat tentang investasi masih sangat kurang, sehingga mereka gampang terkecoh dengan janji-janji kosong yang berbalut agama. Seharusnya, mereka mengecek kebenaran investasi tersebut, sebelum menanamkan modalnya. Benarkah perusahaan yang dikelola MW dan IF menyetor kebutuhan sembako ke hotel berbintang di Yogya. Setelah kasus ini terbongkar, ternyata tidak ada sama sekali pasokan sembako ke hotel berbintang. (Hudono)

Read previous post:
BELI RIBUAN PIL KOPLO DI MEDSOS- 9 Pengedar Narkoba Dibekuk

SLEMAN(MERAPI)- Satresnarkoba Polres Sleman berhasil meringkus sembilan orang tersangka pengedar pil koplo jenis trihexyphenidyl. Petugas juga menyita barang bukti 7.590

Close