Membunuh untuk Iseng


ilustrasi
ilustrasi

PEMBUNUH pelajar Fatur Nizar Rakadio alias Dio telah ditangkap. Sebanyak dua belas pelajar berhasil diamankan polisi beberapa hari lalu. Namun, baru satu orang yang ditetapkan sebagai tersangka, yakni APS (18). Diduga APS-lah yang menendang motor Dio hingga terjatuh dan mengalami luka parah pada pertengahan Desember lalu. Karena lukanya itu Dio mengembuskan napas terakhir pada 9 Januari lalu.

Polisi masih mengembangkan kasus tersebut, namun untuk sementara menjerat APS dengan Pasal 351 ayat (3) tentang penganiayaan yang menyebabkan matinya orang. Kalau ditelusuri, sebenarnya mereka telah menyiapkan cat yang dimasukkan plastik untuk dilempar ke calon korbannya yang lewat di tempat kejadian perkara sekitar kawasan Imogiri. Ironisnya, mereka melakukan itu hanya untuk iseng. Membunuh kok untuk iseng.

Bisakah pelaku dijerat dengan pasal pembunuhan (338 KUHP) ? Tentu perlu pencermatan mendalam. Sebab, bila pelaku sejak awal sudah menduga bahwa tindakannya bisa mengakibatkan orang lain meninggal, maka yang bersangkutan dapat diancam pasal pembunuhan. Sedang bila pelaku tidak mengira atau menduga sama sekali bahwa perbuatannya bisa berakibat fatal, maka ia hanya dikenakan pasal penganiayaan yang berakibat kematian.

Yang jelas, para pelaku tidak punya itikad baik untuk menyerahkan diri. Hal ini terlihat sejak peristiwa pertengahan Desember 2019 hingga penangkapan 14 Januari, sehingga ada rentang waktu yang cukup bagi pelaku untuk menyerahkan diri. Padahal, mereka tahu atau patut mengetahui bahwa korbannya meninggal dunia.

Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati orangtua Dio. Wajar bila mereka menuntut keadilan. Lantas bagaimana dengan orangtua pelaku ? Biasanya mereka akan mencari cara agar anaknya tidak dihukum. Sikap mereka tidaklah terpuji, bahkan tidak berempati kepada korban. Bagaimana bila peristiwa tragis itu menimpa anak mereka ?

APS yang sudah berusia 18 tahun mestinya tetap dikenai pidana biasa, meskipun masih berstatus pelajar. Sepanjang sudah berusia 18 tahun maka ia diperlakukan sebagai orang dewasa. Dengan begitu kiranya tidak memungkinkan diterapkan diversi atau penyelesaikan di luar hukum. Walaupun demikian, polisi tetap menggunakan prinsip kehati-hatian dalam memeriksa kasus ini. Artinya, kalau anak tersebut tidak terlibat dan hanya ikut-ikutan, sehingga posisinya di tempat yang salah, tentu tak bisa diposisikan sebagai pelaku. (Hudono)

Read previous post:
DIDUGA BERMOTIF DENDAM PRIBADI- Ngaku Polisi, Aniaya Korban

UMBULHARJO (MERAPI)- Seorang pemuda warga Glagah, Warungboto, Umbulharjo, harus berurusan dengan polisi. RM (25) ditangkap karena melakukan penganiayaan terhadap Zaldi

Close