Keluyuran = Klitih


ilustrasi
ilustrasi

AKSI klitih sudah sangat meresahkan masyarakat. Bahkan, boleh dibilang tiada hari tanpa klitih. Berbagai upaya pun telah dilakukan untuk mencegah atau setidak-tidaknya mengurangi aksi klitih. Tapi, nampaknya aparat kepolisian kewalahan bila menghadapi sendiri aksi klitih. Artinya, harus ada peran serta masyarakat untuk mengurangi aksi klitih.

Berkaitan upaya pencegahan ini, jajaran Polsek Ngemplak Sleman membuat terobosan dengan imbauan positif yang intinya melarang anak-anak keluyuran di malam hari, apalagi sampai dini hari atau esok hari. Bila ditemukan anak-anak ngeluyur pada malam hari, maka akan diamankan dan diproses sesuai undang-undang. Untuk itulah jajaran Polsek Ngemplak intensif melakukan patroli di malam hari.

Upaya ini pun membuahkan hasil. Beberapa anak yang kedapatan keluyuran di malam hari langsung digaruk dan diamankan. Jika tidak ditemukan senjata tajam atau hal-hal yang membahayakan dan melanggar hukum, mereka dibina dan dikembalikan kepada orangtua. Intinya, mereka yang kedapatan keluyuran tanpa tujuan jelas, dianggap klitih.

Cara seperti ini sebenarnya bisa menjadi percontohan bagi daerah lain. Anak pasti akan berpikir ulang kalau mau keluyuran karena bisa ditangkap polisi. Paling tidak, mereka telah terdata di kepolisian, sehingga bila ada apa-apa, mudah untuk diidentifikasi.

Lebih penting lagi, cara yang dilakukan Polsek Ngemplak, membutuhkan partisipasi orangtua, yakni meminta agar mereka tidak membiarkan anak-anaknya keluyuran di malam hari tanpa tujuan yang jelas. Sayangnya, belum ada mekanisme untuk memberi sanksi kepada orangtua yang abai terhadap imbauan tersebut. Padahal, meski sifatnya hanya imbauan, namun dampaknya positif.

Mestinya, orangtua yang melalaikan kewajiban mengawasi anak-anaknya juga diberi sanksi sosial atau administratif, misalnya menandatangani kehadiran di kantor polisi dan sebagainya. Jika ini dilakukan, hampir bisa dipastkan para orangtua akan rajin mengawasi anak-anaknya. Mungkin ada yang beranggapan bahwa namanya imbauan tidak boleh ada sanksi. Memang ini benar, namun seharusnya dibaca bahwa hal itu bukanlah bentuk sanksi, namun sebagai dorongan moral agar para orangtua bersungguh-sungguh mengawasi anaknya.

Bila anak keluyuran dianggap klitih, pasti mereka akan berpikir ulang untuk melakukannya. Lama-kelamaan, imbauan tersebut berubah menjadi semacam kewajiban moral. Dampak berikutnya, bisa menjadi konvensi atau kebiasaan dalam hidup bermasyarakat. Keluyuran di malam hari dianggap sebagai perbuatan tercela. (Hudono)

Read previous post:
TERDESAK KEBUTUHAN EKONOMI- Handphone Teman Pun Disikat

DEPOK (MERAPI)-Terdesak kebutuhan ekonomi, CA (30) warga NTB yang tinggal di Kledokan, Caturtunggal, Depok, Sleman, nekat mencuri handphone temannya. Guna

Close