Pemuda Ngebet Nenek


ilustrasi
ilustrasi

MENIKAH adalah hak asasi manusia yang tak boleh dirintangi sepanjang memenuhi persyaratan undang-undang. Terkadang di masyarakat kita menemui kasus unik, misalnya seorang pemuda lajang menikah dengan janda yang notabene sudah kategori nenek-nenek karena telah memiliki cucu. Namun, namanya cinta tidak bisa diintervensi siapapun, bahkan oleh orangtuanya sendiri.

Cinta bersifat alami dan tidak bisa dipaksakan. Membangun mahligai rumah tangga tanpa adanya cinta, tentu sangat riskan. Model kawin paksa seperti pada zaman Siti Nurbaya rasanya sudah tidak ada lagi. Namun perkawinan yang tidak disetujui orangtua masih jamak di masyarakat kita.

Seperti terjadi di Semarang, tepatnya di kawasan perbukitan Tambak Aji, Ngaliyan, seorang pemuda Erwin (26) mencintai janda kategori nenek dengan lima anak dan cucu. Cinta Erwin sepertinya tak bisa dibendung sehingga ia bertekad menikahi nenek tersebut atas dasar cinta yang mendalam. Namun, orangtua Erwin tidak setuju bila anaknya menikah dengan perempuan janda yang usianya jauh lebih tua itu.

Akibatnya, Erwin frustasi dan memilih jalan pintas bunuh diri. Inilah kisah tragis seorang pemuda yang mencintai seorang nenek namun tak direstui orangtua. Orang mungkin tidak mengira Erwin begitu nekat mempertahankan cintanya untuk seorang nenek. Orangtua Erwin boleh jadi menyesal lantaran tidak merestui hubungan mereka.

Namun, orangtua mana yang ikhlas anaknya menikah dengan seorang nenek yang usianya jauh lebih tua ? Secara hukum perkawinan, sebenarnya tidak ada hambatan bila Erwin hendak menikahi janda yang sudah nenek-nenek, sepanjang memenuhi persyaratan. Mungkin orangtua Erwin berpandangan anaknya akan hidup tidak bahagia bila menikahi nenek dengan beberapa cucu itu. Padahal belum tentu.

Jika memang keinginan anak sudah tak bisa dibendung, terlebih mereka sudah saling mencinta, mungkin jauh lebih baik dibiarkan saja. Tokh direstui atau tidak, Erwin yang sudah dewasa tetap bisa melangsungkan pernikahan. Hanya saja, risikonya, hubungan dengan orangtuanya menjadi tidak harmonis.

Daripada malah kehilangan anak, lebih baik biarkan anak untuk memilih jalan hidupnya, temasuk menikah dengan wanita yang ia cintai, entah itu muda atau tua. Sebab, pada akhirnya, dialah yang bertanggung jawab atas semua yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perempuan yang notabene membutuhkan wali untuk menikah. Tanpa adanya wali, pernikahan tak bisa dilangsungkan. (Hudono)

Read previous post:
Bahagia

HIDUP penuh misteri. Hidup ini penuh kesulitan dan tantangan yang silih berganti. Hidup laksana “cakra manggilingan” atau roda pedati yang

Close