Pacaran Kebablasan


ilustrasi
ilustrasi

APA jadinya bila pacaran kebablasan tanpa kendali ? Kehamilan. Bagi pasangan suami istri yang mendambakan anak, kehamilan tentu menjadi berkah yang patut disyukuri. Namun bagi remaja yang notabene masih duduk di bangku sekolah, kehamilan bisa dianggap menjadi malapetaka lantaran belum terikat perkawinan sah dengan pasangan.

Bahkan, akibatnya, orang yang menghamili malah bisa masuk bui lantaran dituduh telah melakukan pelanggaran hukum. Agaknya, inilah yang dialami AES (17), kelas 2 SMA warga Bantul. Ia menjadi pesakitan dan harus duduk di kursi terdakwa lantaran didakwa telah menghamili siswi SMP. AES pun dijerat Pasal 81 UU Perlindungan Anak. Jaksa menuntutnya dengan hukuman 1,5 tahun untuk menjalani pembinaan di lembaga BPRSR dan wajib menjalani latihan kerja selama enam bulan. Proses persidangan masih berlangsung di Pengadilan Negeri Bantul.

Berdasar kronologinya, sebenarnya tidak ada unsur paksaan atas hubungan asmara yang mereka jalin. Bahkan, sebelum mereka melakukan hubungan layaknya suami istri, korban justru yang aktif mendatangi rumah pelaku di Kasihan Bantul. Lantaran orangtua AES pergi, suasana rumah pun menjadi sepi hingga mereka leluasa bercumbu. Alhasil si perempuan hamil hingga melahirkan bayi. Tapi akibat kejadian tersebut, AES harus berurusan dengan hukum. Mengapa ?

Karena AES dianggap melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur, meski pelaku juga masih di bawah umur atau belum dewasa. Dengan begitu, meskipun hubungan didasarkan suka sama suka dan tidak ada unsur paksaan, tetap saja orang yang menghamili anak di bawah umur dapat dituntut secara pidana. Sedang anak yang dihamili diposisikan sebagai korban, meski yang bersangkutan mungkin merasa tidak menjadi korban.

Dalam kasus kesusilaan seperti ini, terkadang berlaku ungkapan: sudah jatuh masih tertimpa tangga. Sudah dihamili masih dikeluarkan dari sekolah. Atau, anak tersebut memilih keluar dari sekolah karena merasa malu dengan teman-temannya. Inilah yang terkadang diprotes kalangan aktivis perempuan dan perlindungan anak, karena itu bukan kesalahan anak tersebut.

(Hudono)

Read previous post:
MERAPI-ISTIMEWA Andika Pandu Puragabaya bersama komponen masyarakat usai sosialisasikan 4 Pilar
PENTINGNYA MENJAGA KEUTUHAN NKRI Andika Pandu Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan

ANGGOTA DPR RI Komisi I Fraksi Partai Gerindra Andika Pandu Puragabaya, Kamis ((28/11/2019) menggelar sosialisasi empat pilar MPR RI yakni

Close