Nenek Korban Klitih


ilustrasi
ilustrasi

AKSI klitih makin nekat dan tak melihat-lihat korbannya. Bahkan seorang nenek, Mahdumbi (71), warga Pandeyan Umbulharjo Yogya menjadi korban klitih ketika bersama tiga orang anaknya melintas di Simpang Empat Jalan Kenari kompleks Amongrogo menggunakan mobil usai berjualan di kawasan UGM Senin dini hari lalu. Ia mengalami luka serius di bagian kepala setelah cah klitih yang diperkirakan berjumlah tiga orang menggunakan motor matic dan trail melempar kaca bagian belakang mobil.

Rizal (37) yang mengemudikan mobil langsung berhenti dan memeriksa korban yang berlumuran darah dan kemudian membawanya ke rumah sakit. Sementara pelaku langsung kabur. Sungguh sulit dipahami akal sehat, mengapa cah klitih itu tega melukai orangtua yang notabene seorang nenek ? Apakah mereka merasa puas setelah melihat si nenek berlumuran darah akibat terkena pecahan kaca lantaran mobil dilempari batu oleh mereka ?

Entahlah, namanya saja klitih, mereka tidak menargetkan korban, yang penting bikin kisruh dan melukai orang di jalan. Bagaimana seandainya ternyata orang yang dilukai adalah keluarga mereka sendiri ? Rasanya sangat sulit menjelaskan betapa brutalnya cah klitih yang bikin onar di sembarang tempat tanpa melihat siapa korbannya.

Andai saat kejadian ada polisi di lokasi, mungkin pelaku bisa segera dibekuk. Namun, saat kejadian tidak ada patroli di sekitar lokasi. Sehingga, begitu kaca spion dirusak dan kaca mobil bagian belakang dilempar batu, pengemudi dan penumpang di dalam mobil tidak bisa berbuat banyak tanpa bisa melakukan perlawanan.

Berbeda dengan kasus di Sleman beberapa waktu lalu ketika pengendara mobil diancam dibunuh oleh cah klitih berani melawan dan mengejar pelaku hingga tertabrak sampai tewas. Meski banyak yang mendukung perlawanan tersebut, namun, korban justru malah diancam hukuman karena dituduh menabrak cah klitih.

Jika demikian, apakah ketika ada warga diserang cah klitih lantas hanya diam saja, dan membiarkan dirinya dipukuli dan dibacok ? Jika ini yang terjadi, tentu cah klitih makin merajalela karena tidak ada orang yang berani melawan. Sebab, bila melawan, apalagi sampai cah klitih tewas, maka justru akan masuk penjara.

Padahal, dalam hukum, ketika seseorang dalam kondisi darurat yang membahayakan keselamatannya, berhak membela diri dan melawan. Sebab, jika hanya diam, korban malah bisa tewas. Mungkin lebih baik masuk penjara daripada hanya diam saja dan tewas dianiaya cah klitih. (Hudono)

Read previous post:
MERAPI-ZAINURI ARIFIN Dirjen IKMA memberi sambutan sekaligus membuka acara
IKMA Kementrian Industri Gelar Rencana Kerja Dana Alokasi Khusus

DIREKTORAT Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Rabu (27/11/2019) menggelar penyusunan Rencana Kerja Dana Alokasi Khusus (DAK)

Close