Obsesi Pakaian Dalam


ilustrasi
ilustrasi

INI masih seputar kasus penusukan seorang guru, Wening Pamuji Asih (33), warga Sambeng, Poncosari Srandakan Bantul yang dilakukan CB (16) siswa di tempat korban mengajar. Dari hasil pemeriksaan, pelaku terobsesi pakaian dalam wanita. Sebelum melakukan penusukan, CB juga sempat mengambil pakaian gurunya dan disembunyikan di belakang rumah korban. Setelah itu ia masuk kamar gurunya yang sedang tidur dan langsung melakukan penusukan menggunakan pisau dapur.

Berdasar kronologinya, tidak ada motif ekonomi dalam peristiwa tersebut. Menurut keterangan orangtuanya, CB masih tercatat sebagai pasien RS Jiwa Grhasia dan sedang menjalani rawat jalan. Atas permintaan orangtuanya, CB pun tidak ditahan meski proses hukum jalan terus dengan sangkaan penganiayaan sebagaimana diatur Pasal 351 ayat 2 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun.

Karena pelaku masih tergolong anak-anak, dalam pemeriksaan ia akan didampingi Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kemenkumham. Pendampingan tersebut diperlukan agar pemeriksaan berjalan fair dan tetap mempertimbangkan masa depan anak. Bahkan, kalaupun yang bersangkutan dijatuhi pidana, maksimal yang dapat dijatuhkan adalah separoh dari ancaman pidana orang dewasa.

Berkaitan kasus tersebut, kiranya ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan penting. Di antaranya, harus ada perhatian khusus dari sekolah terhadap siswa yang mengalami gangguan atau kelainan jiwa. Meskipun yang bersangkutan sedang menjalani rawat jalan dan rutin minum obat, tetap harus ada pengawasan khusus. Kalau perlu, daripada membahayakan orang lain, siswa yang mengalami kelainan jiwa disediakan fasilitas belajar tersendiri. Artinya ia tetap berhak menimba ilmu namun jangan sampai membahayakan orang lain.

Perilaku menyimpang yang dialami CB sering disebut sebagai kleptomania, yakni sering mencuri bukan karena motif ekonomi, melainkan karena kesenangan atau hobi. Kemudian, mengapa yang dicuri pakaian dalam perempuan ? Itu juga bagian dari kelainan yang dialami CB. Sebab, barang yang dicurinya sebenarnya tak memiliki nilai ekonomi, kalaupun ada nilai ekonominya sangat kecil dan tidak signifikan.

Anak seperti CB seharusnya memang diobati sampai sembuh dan harus selalu diawasi. Penjara memang bukan tempat yang tepat untuk mengobati. Namun, bila CB dibiarkan bebas pergi ke mana saja, lantas bagaimana seandainya peristiwa penusukan itu terulang ? Siapa yang bertanggung jawab ? Sebab, orang seperti CB mungkin tidak merasa menyesal atas perbuatannya. Namanya saja mengalami kelainan jiwa. (Hudono)

Read previous post:
DIGUNAKAN UNTUK PENGADILAN AGAMA- Pemkab Sleman Hibahkan Tanah 2.538 Meterpersegi ke MA

SLEMAN (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menghibahkan sebidang tanah kepada Mahkamah Agung (MA) RI. Tanah seluas 2.538 meter persegi

Close