Kasih Tak Sampai


ilustrasi
ilustrasi

KASUS penusukan oleh seorang siswa CB (16) terhadap guru perempuannya, Wening Pamuji Asih (33) di rumahnya, Sambeng, Poncosari Srandakan Bantul, Rabu malam pekan lalu sungguh mengagetkan semua orang. Kasus seperti ini tergolong sangat langka. Apalagi, berdasar pengakuannya, CB sudah lama menaruh hati pada gurunya, namun, katanya cintanya tak pernah direspons. Padahal, berdasar bukti yang ditemukan petugas berupa HP yang tertinggal di TKP, sama sekali tak ada komunikasi antara CB dengan gurunya.

Orang awam mungkin bertanya-tanya, kalau memang CB mencintai gurunya mengapa justru melukainya dengan menusuk pakai senjata tajam dan nyaris menghilangkan nyawa orang yang dicintainya. Agaknya CB mengalami kelainan jiwa. Kelainan jiwa tentu tidak identik dengan gila, melainkan ada yang terganggu dalam kejiwaannya.

Namun untuk memastikannya diperlukan pemeriksaan oleh ahli kejiwaan, psikolog atau psikiater. Dilihat sekilas perilaku anak tersebut memang aneh. Agaknya, ia mencintai secara diam-diam gurunya. Mungkin ia juga tak pernah mengungkapkannya, baik secara langsung tatap muka maupun lewat WA atau sarana lainnya. Sehingga, kabar penusukan siswa terhadap gurunya bikin heboh di kalangan guru maupun orang tua.

Korban pasti tak menduga ada siswanya yang cinta setengah mati. Pun tak mengira bila CB nekat datang ke rumahnya secara sembunyi-sembunyi hingga bertindak brutal menusuknya menggunakan pisau dapur. Aksi tersebut agaknya sudah direncanakan CB jauh hari.

Meski pelaku masih di bawah umur, proses hukum jalan terus. Seperti diketahui, proses hukum pidana anak di bawah umur berbeda dengan orang dewasa. Tapi bukan berarti anak-anak tak bisa dihukum. Tindakan diskresi ataupun diversi bisa saja dilakukan, namun hanya untuk tindak pidana tertentu.

Tindakan CB sangat membahayakan nyawa Wening. Bahkan, bila pertolongan terhadap korban terlambat, bisa berakhir dengan kematian. Semula korban dibawa ke RS UII, namun karena kondisinya cukup parah, dirujuk ke RS Sardjito.

Kasus ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan. Intinya, dari sekian banyak siswa mungkin ada yang mengalami kelainan kejiwaan, sehingga butuh penanganan khusus. Artinya, untuk menangani anak dengan kondisi seperti itu, tak harus menunggu sampai ada korban jatuh. Langkah pencegahan harus lebih diutamakan sehingga tidak sampai menimbulkan korban. (Hudono)

Read previous post:
LBH SENOPATI BERI PENYULUHAN HUKUM- Kiat Selesaikan Kasus di Luar Pengadilan

KASIHAN (MERAPI) - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Senopati Bantul bekerja sama dengan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM DIY menggelar penyuluhan

Close