Stop Anarkisme


ilustrasi
ilustrasi

AKSI anarkis oknum suporter yang beringas merusak fasilitas publik, bahkan sejumlah mobil patroli polisi dirusak dan dibakar, sungguh membuat kita miris. Bagaimana mungkin masyarakat Yogya yang dikenal sangat ramah dan santun tiba-tiba berubah menjadi beringas ketika kesebelasan kesayangannya dikalahkan lawan di kandang sendiri. Ya, puncak kerusuhan terjadi usai laga antara PSIM Yogya dan Persis Solo di Stadion Mandala Krida Yogya, Senin lalu.

Polisi sudah menangkapi sejumlah orang yang diduga terlibat kerusuhan. Namun, dipastikan masih banyak yang belum tertangkap, karena melibatkan massa dalam jumlah cukup besar. Lebih dari itu, aksi massa ini bersifat sporadis sehingga sulit diprediksi. Ada yang mengatakan polisi kecolongan, karena kerusuhan tak bisa dicegah.

Sepertinya tak ada yang mengira kerusuhan bakal semakin parah, menyusul pembakaran mobil patroli milik Polresta Yogya. Mobil dirusak sejumlah orang kemudian dibakar. Asap pun membubung tinggi hingga terlihat dari kejauhan. Jalan di seputar Stadion Mandala Krida pun diblokir sementara untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Semua orang yang masih berpikiran sehat, pasti terkejut, marah dan kecewa bercampur aduk. Apa urusannya, kesebelasan kesayangannya kalah kok mbakar mobil polisi dan merusak fasilitas publik ? Bukan itu saja, seorang jurnalis yang bertugas meliput peristiwa tersebut menjadi korban penganiayaan dan dipaksa menghapus rekaman liputannya.

Boleh jadi, mereka yang bertindak beringas ingin melampiaskan kekecewaannya lantaran tim kesebelasan kesayangannya kalah berlaga. Karena saat itu tidak ada suporter lawan, maka pelampiasannya acak, apapun yang ditemui dirusak. Anehnya lagi, ada penjarahan setelah sejumlah orang melakukan perusakan.

Adakah oknum lain dengan tujuan tertentu yang ingin mengambil keuntungan ekonomi di balik kerusuhan ? Boleh jadi jawabnya ya. Karena itu, polisi harus menuntaskan penyelidikan dan penyidikan atas kasus tersebut. Bila kasus kekerasan ini tidak diusut tuntas, dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi kondisi masyarakat Yogya. Padahal, tidak semua warga masyarakat pro terhadap kekerasan. Sebaliknya, banyak yang menjunjung nilai sportivitas dengan tetap mengedepankan nilai-nilai persahabatan.

Proses hukum harus jalan terus demi menegakkan nilai-nilai keadilan serta kepastian hukum. Bila tidak diproses lebih lanjut lantaran melibatkan massa, niscaya hukum akan dilecehkan dan aksi kekerasan akan terus berlanjut. (Hudono)

Read previous post:
JAKSA MENUNTUT 4 BULAN- Pelaku KDRT Divonis 1 Tahun Penjara

BANTUL (MERAPI) - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bantul yang diketuai Sri Wijayanti Tanjung SH akhirnya menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa

Close