Bunuh Diri Anak


ilustrasi
ilustrasi

SUNGGUH tragis, seorang bocah kelas V SD di Temanggung, Hr (12), tewas gantung diri. Jasadnya ditemukan menggantung di teras rumah belakang Senin pekan lalu. Diduga ia frustasi setelah orangtuanya bercerai. Menurut keterangan sejumlah warga, Hr sering dimarahi bapaknya setelah bercerai. Ia sering merokok dan minum miras, bahkan sering tak pulang rumah.

Mungkin ini kejadian pertama di Temanggung, seorang bocah SD mati bunuh diri. Inikah produk dari pendidikan kita ? Mengapa anak sekecil itu punya pikiran fatal, menggantung diri setelah orangtuanya bercerai ? Tentu ini menarik jadi bahan penelitian bagi dunia pendidikan. Setidaknya ada jawaban mengapa anak cenderung nekat ketika menghadapi masalah di dalam keluarganya.

Bagi para orangtua mestinya juga harus lebih memberi perhatian kepada anak. Meski mereka bercerai, anak tetaplah anak. Kita sering mendengar ungkapan, ada bekas istri atau suami, namun tidak ada bekas anak. Artinya, ketika orangtua bercerai, anak tetap harus mendapat perhatian utama, termasuk dalam hal pendidikan dan masa depannya.

Kita tersentak membaca berita sang anak membuat surat wasiat yang ditujukan kepada budenya sebelum gantung diri. Polisi juga melakukan penyelidikan terkait keaslian surat wasiat tersebut. Pasalnya, di medsos beredar kabar anak tersebut kemungkinan menjadi korban pembunuhan, bukan bunuh diri.

Tapi berdasar hasil penyelidikan polisi, dugaan tersebut tidak benar karena tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban. Jadi, dugaan paling kuat dan diyakini polisi adalah anak tesebut mati karena bunuh diri.

Anak-anak acap menjadi korban perilaku orang dewasa. Termasuk yang dialami Hr, sesungguhnya ia juga korban kelakuan orangtuanya yang bercerai sehingga membuat jiwanya terguncang. Dalam kondisi seperti itu, tindakan orangtua justru kontraproduktif, misalnya dengan memarahi dan sebagainya. Akibatnya, anak menjadi tertekan dan berusaha melampiaskan dengan caranya sendiri. Sayangnya, pelampiasannya salah arah, bahkan hingga meregang nyawa.

Andai saat itu ada pendampingan dari orangtua maupun guru, mungkin kejadiannya tidak seperti itu. Ya, semua sudah terlambat, yang ada tinggal penyesalan. Orangtua dan guru pun hanya bisa mengambil pelajaran dari peristwa itu: jangan sekali-sekali meninggalkan anak, apalagi dalam keadaan terguncang. Jangan sampai terlambat, anak harus diselamatkan. (Hudono)

Read previous post:
AHLI DALAM SIDANG KASUS PENAMBANGAN- Penambangan Dilakukan di Lokasi Terlarang

BANTUL (MERAPI) - Ahli dari Kantor Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) DIY, Eka Purnama menilai penambangan tanah urug yang

Close