Putus Cinta, Mencuri


ilustrasi
ilustrasi

SUDAH berpacaran selama 8 tahun tiba-tiba kandas di tengah jalan. Rasa sakit hati pun sulit dihilangkan, hingga akhirnya timbul pikiran neko-neko. Itulah yang dialami MH (22), warga Kaliurang Barat Hargobinangun Pakem Sleman. Niat membangun bahtera rumah tangga pun sirna seiring putusnya tali cinta dengan sang kekasih.

Sayangnya, untuk melampiaskan sakit hatinya, MH bertindak nekat dengan mencuri mobil milik majikannya, bos toko bangunan di Ngaglik Sleman. Alasan ia mencuri, untuk pindahan dari Yogya ke Solo guna melupakan sang mantan. Mobil pikap curian pun ia jual melalui facebook dan laku Rp 19 juta, padahal tidak ada BPKB. Ngakunya, BPKB hilang dan pembeli percaya begitu saja.

Belum sampai menikmati hasil curiannya, MH berhasil dibekuk polisi menyusul laporan korban yang notabene majikannya sendiri. Namun uang sudah dibelikan motor, perabot rumah tangga dan bayar uang kos. Singkat kata, uang telah habis dibelanjakan. Kini barang-barang tersebut telah diamankan polisi sebagai barang bukti.

Melihat kronologinya, sepertinya tidak ada kaitan antara pencurian tersebut dengan putus cinta. Walaupun masuk akal bila cerita MH dikait-kaitkan dengan percintaannya yang kandas, namun rasanya terlalu jauh kalau kemudian melampiaskannya dengan mencuri. Apa urusannya cinta dengan mencuri ?

Diputus pacar, mengapa justru majikan yang menjadi korban. Mungkin itu hanya dalih MH untuk mencuri. Sebab, boleh jadi, ia memang sudah punya niatan untuk berbuat jahat pada majikannya itu. Kalau memang dia kecewa diputus oleh sang pacar, mestinya kekecewaan itu dialamatkan kepada yang bersangkutan, bukan kepada majikan.

Aksi MH boleh dibilang amatiran. Dengan menduplikat kunci garasi dan akhirnya berhasil membawa kabur mobil majikan, tokh akhirnya ketahuan juga. Sangat mudah bagi petugas untuk mengidentifikasi pelaku, meski barang curian sudah dijual melalui media sosial (medsos). Anehnya, ada juga pembeli yang percaya kepada MH dan akhirnya membeli mobil curian.

Mestinya si pembeli curiga karena MH tidak bisa menunjukkan BPKB sebagai bukti kepemilikan kendaraan. Lantaran tergiur harga murah, tetap saja mobil curian itu dibeli. Akan menjadi persoalan hukum bila si pembeli tahu bahwa mobil yang ia beli merupakan hasil kejahatan. Jika ini yang terjadi, pembeli dapat dituduh melakukan penadahan. Sebaliknya bila memang benar-benar tidak tahu, yang bersangkutan terbebas dari tuntutan hukum. (Hudono)

Read previous post:
ALAMAK AUDIENSI KE DINAS SOSIAL DIY- Berharap Perda Bantuan Hukum Terwujud

BANGUNTAPAN (MERAPI) - Berbagai komunitas atau jaringan yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat untuk Akses Keadilan (Alamak) DIY melakukan audiensi dan

Close