Formalin Ancam Nyawa


ilustrasi
ilustrasi

INI peringatan bagi para penjual makanan yang nakal. Terkadang penjual hanya mau untungnya tanpa mau bersusah payah. Maunya untung besar, tak peduli cara mendapatkannya. Misalnya, yang sering terjadi, penjual makanan yang mencampur barang dagangannya dengan bahan beracun berbahaya, seperti formalin.

Inilah yang dilakukan Jarkoni (50), penyalur mi basah warna kuning di Pasar Niten Bantul, yang mencampur dagangannya dengan formalin. Tujuannya biar barang dagangannya awet, sehingga tidak basi dalam waktu lama. Dengan begitu ia tidak merugi karena tidak ada barang dagangannya yang terbuang.

Celakanya, Jarkoni menjual mi basah berkandungan formalin itu kepada para pedagang di Pasar Niten. Untung aksi Jarkoni terendus petugas BPOM sehingga barang dagangannya disita. Setelah dites mi basah tersebut positif mengandung formalin, sehingga Jarkoni harus menjalani proses hukum di pengadilan. Oleh hakim PN Bantul ia divonis 10 bulan penjara atau lebih ringan dari tuntuan jaksa 15 bulan penjara.

Lantas bagaimana dengan penjual yang menerima setoran mi basah dari Jarkoni ? Karena mereka tidak tahu bahwa mi tersebut mengandung formalin, maka dibebaskan dari jerat hukum. Namun kondisi seperti ini tentu sangat kasuistis. Artinya tak serta merta orang yang mengaku tidak tahu lantas terbebas dari hukuman. Sebab, bila ini terjadi, maka setiap ada kasus hukum, yang bersangkutan akan mengatakan ‘tidak tahu’.

‘Tidak tahu’, artinya ia memang benar-benar tidak mengetahui. Lain halnya dengan ungkapan patut mengetahui, yang artinya orang tersebut berdasar kebiasaan, mestinya mengetahui ada hal yang tidak beres dengan barang yang dijualnya. Konkretnya, bila penjual mi tersebut sudah tahu ciri-ciri mi bermormalin yang diedarkan Jarkoni, maka bila yang bersangkutan menemui mi yang karakteristiknya sama, tidak bisa ia serta merta mengatakan tidak tahu bahwa mi tersebut mengandung formalin.

Dengan divonisnya Jarkoni karena terbukti mengedarkan mi berformalin, diharapkan memberi efek jera, baik kepada yang bersangkutan maupun orang lain. Harapannya, tak ada lagi penjual yang mencari untung dengan cara melanggar hukum, bahkan mengancam kesehatan orang lain. Formalin adalah zat pengawet yang biasa digunakan untuk mengawetkan mayat. Zat tersebut sangat berbahaya bila dikonsumsi manusia. Karena itu, siapapun yang memasukkan zat tersebut ke dalam makanan, harus dikenai sanksi hukum. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
DIBENTUK FORUM OBH DIY- Perluas Akses Keadilan Masyarakat

DEPOK (MERAPI) -Untuk memberi akses bantuan hukum kepada masyarakat luas, beberapa organisasi bantuan hukum (OBH) di DIY membentuk Forum OBH

Close