Tipuan Bisnis Online


ilustrasi
ilustrasi

BELAKANGAN ini bisnis lewat online atau dunia maya makin marak. Semua transaksi bisa lewat online karena bisa lebih cepat dan praktis. Namun, bila tidak hati-hati, siapapun bisa menjadi korban penipuan. Contohnya, J warga Yogya yang menjadi korban penipuan transaksi online oleh seorang ibu rumah tangga KH (23), warga Tegal.

Dilihat modusnya sebenarnya sangat sederhana. Awalnya, KH berminat membeli barang-barang peralatan rumah tangga yang ditawarkan J dengan harga yang disepakati. Begitu KH menunjukkan bukti transfer bank, J langsung mengirim barangnya. Celakanya, J tak pernah memeriksa saldonya, melainkan terus mengirimkan barang yang diminta KH. Belakangan diketahui, bukti transfer bank yang ditunjukkan KH palsu. Artinya, KH tak benar-benar mentransfer uang kepada J.

Andai J saat itu cepat memeriksa saldo, mungkin tak sampai ketipu hingga Rp 22 juta lebih yang merupakan akumulasi transaksi sebelumnya. Untung polisi berhasil melacak keberadaan KH melalui HP yang digunakan untuk bertransaksi. Pelaku kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan meringkuk di sel tahanan sambil menunggu proses hukum selanjutnya.

Kalau dicermati, transaksi jual beli lewat online sebenarnya hal biasa, bahkan telah menjadi kebutuhan. Akibat berkembangnya bisnis lewat online, bisnis konvensional yang mengharuskan penjual dan pembeli bertemu, menjadi makin lesu. Orang lebih cepat dan nyaman bertransaksi lewat online, termasuk pembayarannya.

Di sinilah perlunya prinsip kehati-hatian, sebab, tidak semua yang terlibat dalam transaksi online jujur. Bahkan, ada yang sengaja menebar jaring untuk menjerat korbannya, seperti yang dilakukan KH. Seharusnya, J tak perlu buru-buru mengirimkan barangnya sebelum yakin bahwa si pembeli telah membayarnya. Apalagi untuk transaksi dalam jumlah besar, harus ekstra hati-hati.

Tapi, terkadang memang ada yang pembayaran dilakukan belakangan, atau setelah barang diterima.Nah, untuk hal yang demikian, biasanya nilainya tidak seberapa. Penjual tentu telah berhitung bila menemukan pembeli yang nakal seperti KH.

Meski begitu, transaksi lewat online tetap digantungkan pada kepercayaan antara penjual dan pembeli. Begitu pula dalam transaksi konvensional, semua didasarkan pada kepercayaan. Hanya saja, bila transaksi bersifat konvensional, antara pembeli dan penjual bertemu langsung dan barang bisa dilihat dan diteliti saat itu juga. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
USAI NENGGAK MIRAS- Rampas HP, Mahasiswa Dituntut 1 Tahun

BANTUL (MERAPI) - Oknum mahasiswa, FH alias Pendol (18) warga Karang Semut Bantul yang melakukan perampasan HP akhirnya dituntut 1

Close