Mencuri untuk Pelampiasan


ilustrasi
ilustrasi

ADA banyak cara untuk mengungkapkan kekecewaan seoranyg karyawan kepada atasannya. Ada yang melalui cara-cara formal dan prosedural, ada pula yang melalui demo agar keluhannya didengar. Lain lagi yang dilakukan MA (30) warga Bondowoso Jawa Timur. Mengaku sakit hati kepada bosnya, karena digaji lebih kecil dibanding karyawan baru, ia nekat mencuri motor dan laptop perusahaan. Namun aksinya ketahuan dan kini ia harus menghadapi proses hukum lebih lanjut.

MA agaknya tak bisa berpikir panjang. Lantaran kecewa digaji lebih sedikit dibanding teman-temannya, yakni Rp 80 ribu/hari, ia sakit hati dan melakukan pencurian. Memang agak aneh, apa hubungannya sakit hati dengan mencuri. Tapi itulah kejadiannya dan diakui terus terang oleh MA ketika diinterogasi petugas.

Awalnya meminjam motor perusahaan, namun tak pernah dikembalikan. Tak hanya itu, MA juga mencuri laptop perusahaan kemudian dijual melalui medsos dengan harga murah. Untuk kasus yang pertama, MA dituduh melakukan penggelapan motor karena barang tersebut sudah berada dalam kekuasaannya, dengan dalih meminjam. Tapi sesungguhnya ia tidak sedang meminjam tapi mendaku atau mengklaim memiliki barang tersebut untuk kemudian dijualnya.

Sedang pada kasus kedua, ia memang benar-benar mencuri laptop, yakni dengan cara mengendap-endap mengambil laptop dalam laci untuk kemudian diamiliki. Berikutnya MA menjual laptop tersebut melalui media sosial dengan harga murah sekitar Rp 1,5 juta. Pertanyaan yang muncul, bisakah orang yang membeli laptop tersebut disebut sebagai penadah.

Kalau pekerjaan sehari-hari si pembeli laptop ini memang menerima barang hasil kejahatan, tentu yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai penadah. Sebaliknya, bila ia orang awam yang semata-mata hanya menginginkan harga murah, tidaklah tepat disebut penadah. Dalam hukum perdata ada ketentuan, pembeli yang beritikad baik dilindungi hukum.

Beritikad baik di sini diartikan, sejak awal ia memang tidak mengetahui bahwa barang yang dibelinya merupakan hasil kejahatan. Tidaklah mungkin menanyakan kepada setiap penjual dari mana memperoleh barangnya, apakah dari hasil kejahatan atau bukan. Namun bila barang tersebut dibelinya dari pasar gelap, si pembeli layak menyangka bahwa barang-barang tersebut asalnya tidak jelas, bisa jadi dari hasil kejahatan.

Jika demikian, tergantung bagaimana kelihaian penyidik untuk menelisik apakah si pembeli memang tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu. Yang jelas, membeli barang dengan harga sangat murah, terlebih di pasar gelap, mengundang risiko hukum. (Hudono)

Read previous post:
ilustrasi
SEGERA DIADILI- Pencuri Burung Kepergok

SLEMAN (MERAPI) - Pencuri burung, AIH alias Aris (35) warga Sleman segera diajukan ke persidangan Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Rabu

Close