Polisi Dipolisikan


ilustrasi
ilustrasi

JUDUL di atas sesungguhnya dimaksudkan untuk bahan introspeksi bagi jajaran kepolisian untuk membina anggotanya. Tentu bukan dimaksudkan untuk mendiskreditkan institusi, sebaliknya justru menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan.

Polisi adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Namun, karena polisi memegang senjata dan diberi kewenangan khusus, misalnya untuk menangkap, bahkan dalam kondisi tertentu menembak, maka kewenangan itu tak boleh disalahgunakan.

Karena itu, kita mengapresiasi ada divisi internal di kepolisian yang bertugas menegakkan etika bagi para anggota kepolisian. Kasus oknum polisi yang menganiaya pacarnya, bahkan dilaporkan menghamilinya, patut menjadi pelajaran berharga bagi institusi Polri khususnya di DIY. Oknum polisi di Polresta Yogya, Bripda DP (25) telah dilaporkan ke Propam Polda DIY. Korbannya, seorang gadis, OKD (28), warga Trimulyo Sleman, sampai harus menjalani rawat inap di rumah sakit karena mengalami luka cukup serius di bagian muka, bahkan ada salah satu giginya yang tanggal.

Polda DIY yang menerima laporan tersebut menyatakan segera menindaklanjuti dan tak akan melindungi anggotanya yang melanggar kode etik profesi maupun pidana. Yang perlu menjadi catatan penting, setelah OKD yang didampingi LKBH Pandawa melapor ke Polda DIY, yang bersangkutan mendapat teror melalui SMS/WA maupun telepon. Sampai-sampai OKD tak berani pulang ke kosnya.

Ya, sebelumnya OKD dan Bripda DP tinggal bareng di kos wilayah Nambongan Caturharjo Sleman. Nah, ini mestinya juga menjadi bahan evaluasi. Mengapa mereka yang notabene belum menikah bisa tinggal bersama di kos ? Pengelola kos maupun pengurus RT setempat semestinya tidak membiarkan hal ini terjadi. Bahkan, secara aturan pun tidak diperbolehkan laki-laki dan perempuan yang belum menikah tinggal bersama di kos. Semestinya ini juga diusut agar ada penegakan aturan kos-kosan.

Melihat perkembangannya, teror terhadap OKD, tak boleh dibiarkan. Kepolisian selayaknya memberi perlindungan kepada korban secara memadai. Untuk melindungi korban, sebenarnya tidak perlu lapor, karena sudah menjadi tanggung jawab kepolisian. Bahkan, siapapun, tak hanya OKD, berhak mendapat perlindungan hukum.

Intinya, siapapun yang menjadi korban, berhak mendapat perlindungan hukum dan siapapun pelaku kejahatan harus dihukum. Apalagi bila yang melakukan oknum polisi, semestinya ancaman pidananya lebih berat lantaran yang bersangkutan penegak hukum. (Hudono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
ilustrasi
ANIAYA ORANG SALAH SASARAN- Tukang Mabuk Segera Diadili

YOGYA (MERAPI) - Terdakwa tukang mabuk, Prw alias Benjo (35) warga Yogyakarta yang melakukan penganiayaan terhadap saksi korban Tuingjo alias

Close